Desaku sebagai tempat lahir dan belajar bermasyarakat dan mengawali mengenal lingkungan sosial lainnya, sepatutnya mendapatkan perhatian penuh dari penghuninya. Selama ini banyak anak-anak desa yang merasa tidak memiliki desanya sebagai sumber masa depannya. Desa seakan-akan telah terabaikan dan bahkan hampir tidak ada ketertarikan lagi anak-anak desa untuk kembali menata dan membangun serta berkontribusi untuk kemajuan desanya.
Bahkan ada berpendapat bahwa kembali ke desa berarti dianggap orang kampungan, gagal menjajaki kota, dan gagal mendapatkan pekerjaan di daerah lain. Ada juga sekolompok anak desa berpandangan bahwa meninggalkan desanya karena mengejar cita-cita dan target masa depan. Namun setelah berhasil mendapatkan cita-citanya, ternyata tidak ada lagi niatan untuk kembali berkontribusi untuk kemajuan desanya. Mungkin karena hanya sekedar janji, atau sekedar minta restu dari keluarga dan sanak familinya di desa, agar diberikan kesuksesan di daerah lain.
Memang desa hari ini seakan-akan sudah di tinggalkan oleh penghuninya yang cerdas dan pintar, sehingga desa hanya diberikan urusannya pada pihak lain. Karena desa ditinggalkan oleh kelompok orang-orang yang memiliki inovasi, maka masuklah orang asing (=pendatang baru dari ibukota) menjajaki berbagai potensi yang dapat dikembangkan di desa tersebut. Kondisi mobilitas penduduk itulah, tidak menutup kemungkinan penghuni asli desa perlahan-lahan akan bergeser dari wilayahnya. Untuk itulah dibutuhkan anak-anak desa yang inovatif di desa.
Pergeseran kepemilikan lahan pertanian yang dulunya produktif dan di garap untuk kebutuhan hidup keseharian masyarakat, dan kini telah bergeser pada lahan yang tidak produktif. Penyebabnya, karena lahan sudah terjual pada orang-orang asing dan peruntukkannya bukan lagi untuk pertanian. Kehilangan lahan itu, sebenarnya karena akibat dari tidak tergarapnya dengan baik. Menjadi petani bagi anak-anak desa hari ini, bukan lagi suatu cita-cita untuk masa depannya, namun anak-anak desa hari ini sibuk dengan kehidupan pribadinya yang cenderung lebih individualis dan bergantung pekerjaan pada kawasan industri.
Kalau fenomena itu terjadi, maka secara sosiologis ada dua solusi alternatif yang harus dilakukan yaitu pertama, mengajak anak-anak desa yang masih usia produktif untuk mencintai desanya dan memahami potensi unggulan hasil pertanian di desanya, kemudian melakukan hubungan kerjasama berbagai lembaga untuk mengembangkan potensi hasil-hasil pertanian. Kedua  mendorong anak-anak desa untuk meningkatkan sumber daya intelektualnya, dan setelah memiliki keahlian dari berbagai bidang ilmu, maka dilakukan pengembalian besar-besaran bagi anak-anak desa untuk membangun desanya.
Siapa yang bisa melakukan itu, tentu bukan hanya karena faktor kesadaran anak-anak desa, namun dibutuhkan kehadiran pemerintah desa itu sendiri untuk memanggil membangun desanya. Melalui anggaran yang ratusan juta turun pada setiap desa, maka perlu dilakukan pemetaan potensi desa yang dapat di olah dan dikerjakan menjadi produktif. Â Kalau bisa kepala desa menginventarisasi, siapa-siapa sajakah anak desa yang sudah memiliki keahlian di perantauan dan lalu di diminta kembali untuk berkontribusi di desanya. Sekiranya ini dapat dilakukan, maka jadilah anak-anak desa inovatif dan mulailah untuk belajar berkontribusi demi kemajuan desa di masa depan.
Suwaib Amiruddin
Sosiolog dan Ketua STISIP setia Budhi Rangkasbitung- Banten