Siapa Generasi Petani Di Desa

Spread the love

Suatu hari saya menyampaikan pertanyaan pada mahasiswa saya, pertanyaan itu sangat sederhana, yaitu siapa orang tuanya di kelas ini seorang petani. Serentak hampir tidak ada yang mau mengacungkan tangan. Lalu saya bertanya kembali siapa yang tinggal di desa atau wilayah agraris?. Ada beberapa yang angkat tangan. Lalu saya mengembalikan pertanyaan saya yang pertama, terkait profesi orang tuanya di kampung halamannya. Kemudian mahasiswa tersebut menjawab adalah petani. Saya tidak melanjtkan pertanyaan saya lagi, karena mungkin mahasiswa tersebut tidak percaya diri kalau orang tuanya seorang petani.

Bisa saja asumsi saya salah, kalau saya mengatakan mahasiswa saya, tidak percaya diri kalau orang tuanya seorang petani, karena mungkin tidak punya kantor, tidak bergengsi, dan mungkin tidak bisa dijadikan sebagai profesi untuk bergaul dengan teman-temannya. Untuk melanjutkan asumsi saya ini silahkan diterjemahkan masing-masing mengapa seorang mahasiswa tidak percaya diri apabila orang tuanya seorang petani.

Bukankah, petani sebenarnya merupakan profesi yang sangat mulia, karena bisa menghasilkan pangan yang dikonsumsi masyarakat diperkotaan dengan berbagai profesi. Tanpa petani kita tidak dapat menghasilkan sumber pangan yang dapat dikonsumsi setiap hari. Restoran, rumah makan dan apapun bentuknya yang berisikan makanan, tentu berasal dari petani. Jadi sebenarnya profesi petani merupakan seorang pahlawan untuk menghidupi berbagai sendi-sendi kehidupan manusia. Mengapa demikian, karena tanpa petani, maka sumber pangan kita tidak akan pernah ada dan tidak dapat terpenuhi.

Krisis pangan yang terjadi di negeri ini, tentu ada banyak kontribusi tidak jalannya sisitem pertanian di negeri ini. Petani tidak bergairah dan bahkan petani terkendala akibat tidak memiliki sumber bibit yang unggul dan harga hasil produksi tanaman tidak terkendali. Pertanyaannya adalah mengapa petani selalu memiliki keterbatasan dalam menjalankan aktifitasnya?. Kendala lainnya, petani di kampung-kampung masih terkendala dari kepemilikan lahan, maka jalan satu-satunya menjadi buruh tani. Menjadi buruh tani, tentu hanya kontrak musiman semata, yaitu pada saat musim tanam dipanggil untuk bercocok tanan, lalu pada saat panen baru dipanggil kembali untuk ikut panen. Hasil panen yang diperoleh, lalu dihitung pembagian upahnya.

Menjadi buruh tani di kampung memang bukanlah profesi yang menjanjikan untuk kesejahteraan keluarganya. Jadi mungkin mahasiswa saya, yang ragu-ragu mengacungkan tangannya, karena orang tuanya hanya sebagai buruh tani. Sebagai anak buruh tani yang melanjutkan sekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi, seharunya harus lebih percaya diri sebagai anak buruh tani. Mengapa saya mengatakan demikian, karena segala apapun sendi kehidupan pangan manusia untuk kelangsungan hidupnya, tidak terlepas dari hasil keringat seorang petani.

Pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo, menginisiasi perlunya membangun kepercayaan diri seorang petani dan menggairahkan profesi petani sebagai profesi yang mulia. Pemerintah bergandengan berbagai unsur diantaranya TNI, Polri dan Pemerintah Daerah untuk bersama-sama membuka lahan persawahan, hutan sosial, dan perbaikan irigasi di beberapa wilayah tertentu di negeri ini. Hal itu, dilakukan untuk mendorong sektor pertanian sebagai sektor unggulan di negeri ini yang kaya dengan rempah-rempah dan tanahnya juga subur. Melalui komitmen dan dorongan pemerintah menjadikan petani sebagai profesi yang mulia itu, seharunya disambut baik. Dan selanjutnya menciptakan petani-petani yang lebih profesional digenerasi berikutnya. Generasi petani berikutnya, seharunya lebih mengedepankan inovasi teknologi dan pendampingan lebih profesional dari perguruan tinggi. “Semoga”

 

Suwaib Amiruddin

Sosiolog dan Ketua STISIP Setia Budhi Rangkasbitung Banten