SERANG- Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasannuddin (SMH) Banten berkolaborasi dengan Rumah Buku SAF sukses menggelar kajian dan ruang pemikiran terbuka yang dilaksanakan secara daring pada Kamis, 25 Juni 2026. Kajian yang secara khusus digagas oleh Departemen Kajian Riset HMPS AFI dan Rumah Buku SAF dengan tema Melampaui Argumen Kosmologi dan Teleologi, mungkinkah?
Kaset ini juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Ushuluddin UIN SMH Banten, Dr Masykur, S.h, M.Hum, Kepala Prodi (Kapordi) AFI UIN SMH Banten Mus’idul Millah, S.Th.I, M.Ag, dan Ketua Umum HMPS AFI Ajiba.
Setelah itu Kaprodi AFI mengatakan bahwa kajian ini sangat bermanfaat untuk mencerahkan teman-teman mahasiwa, walaupun ini adalah kali pertama HMPS melakukkan kajian webminar, tetapi sudah membahas sesuatu yang berat, saya juga tertarik untuk mengikuti kajian ini karna tema yang dikaji mencerminkan AFI dan selain itu saya juga tertarik karna narasumber kali ini sangat luar biasa. Pungkasnya.
Ketua Umum AFI UIN SMH Banten, Nazwa Ajiba Zahra berharap kajian perdana ini dapat berjalan dengan lancar. Menurutnya, kegiatan kajian menjadi ruang untuk membentuk cara berpikir yang lebih kritis, khususnya bagi mahasiswa AFI. Melalui forum ini akan lahir banyak pertanyaan sekaligus upaya mencari jawabannya.
Dekan FUDA UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Dr. Masykur, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi ruang yang penting untuk memperkuat pemahaman keislaman melalui pendekatan rasional dan filosofis.
Ia menjelaskan bahwa Allah adalah Zat yang memulai penciptaan seluruh makhluk. Kehidupan manusia di dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan yang telah dijanjikan Allah. “Kita diciptakan oleh Allah dan kepada-Nya pula kita akan dikembalikan. Kehidupan ini tidak berhenti di dunia, tetapi berlanjut menuju kehidupan akhirat. Itulah janji Allah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa dalam perspektif kosmologi, alam semesta terus bergerak dan mengalami perubahan. Kondisi tersebut melahirkan pertanyaan filosofis mengenai sebab pertama (first cause), yakni siapa penggerak pertama dari seluruh realitas yang ada.
Sementara itu, dari sudut pandang teleologi, alam semesta menunjukkan keteraturan yang sangat jelas. Gunung yang menjulang, lautan yang luas, serta berbagai fenomena alam lainnya memperlihatkan adanya tatanan yang teratur dan memiliki tujuan. Keteraturan tersebut menunjukkan bahwa alam semesta tidak hadir secara kebetulan, melainkan merupakan rancangan Sang Pencipta.
Menurutnya, argumentasi kosmologis dan teleologis pada akhirnya mengantarkan manusia pada pengakuan terhadap Allah sebagai Wājib al-Wujūd (Wujud yang Niscaya). Karena itu, akal sehat tidak seharusnya digunakan untuk menolak keberadaan Tuhan, melainkan untuk menyadari keterbatasan manusia sebagai hamba-Nya.
“Iman tidak hanya berhenti pada keyakinan akan keberadaan Allah, tetapi harus tercermin dalam cara berpikir, cara memperlakukan sesama manusia, dan bagaimana kita merawat kehidupan serta alam semesta. Di situlah makna penting dari argumentasi kosmologis dan teleologis bagi seorang mukmin,” tutupnya.
Dalam pemaparannya, Dr. Gigih Saputra, S.Kom.I., M.Ag., memperkenalkan Teori Sistem Kosmo-Teleologi (TSKT) sebagai sebuah pendekatan baru dalam kajian filsafat ketuhanan. Menurutnya, berbagai argumen klasik mengenai eksistensi Tuhan, seperti argumen kosmologi, teleologi, kontingensi, dan kalam, selama ini berkembang secara terpisah sehingga belum membentuk suatu sistem pemikiran yang utuh.
“Kondisi tersebut mendorong perlunya rekonstruksi paradigma yang mampu mengintegrasikan berbagai pendekatan tersebut ke dalam kerangka yang lebih komprehensif,” ujarnya, via Zoom, Kamis, 25 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa teori ciptaanya ini (TSKT) dibangun di atas tiga fondasi utama, yakni kausalitas, keteraturan, dan kekacauan. Ketiga unsur tersebut dipandang sebagai satu kesatuan sistem yang saling berkaitan dalam menjelaskan hakikat realitas. Menurutnya, alam semesta menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat yang bersifat universal, memiliki keteraturan yang mengarah pada tujuan tertentu, sekaligus mengalami peningkatan kekacauan yang menandakan adanya keterbatasan eksistensial.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keterbatasan alam semesta mengarah pada kesimpulan bahwa alam tidak mungkin mengadakan dirinya sendiri. Dari penalaran tersebut, TSKT menyimpulkan adanya suatu Eksistensi Mutlak yang berada di luar sistem kausalitas alam, yakni Sang Pencipta. Namun demikian, teori ini tidak berhenti pada penggunaan argumen klasik, melainkan menyusun hubungan sistemik antara kausalitas, keteraturan, dan kekacauan sebagai dasar penalaran menuju eksistensi Tuhan.
Dalam presentasinya, Pemateri juga menekankan bahwa TSKT bukan sekadar sintesis dari argumen-argumen terdahulu, melainkan hasil dekonstruksi dan rekonstruksi yang melahirkan paradigma baru. Ia membandingkan teorinya dengan berbagai pendekatan filsafat ketuhanan, seperti argumen kontingensi, pemikiran Mulla Sadra, Mir Damad, William Lane Craig, Andrew Loke, hingga Romo Magnis Suseno. Menurutnya, perbedaan mendasar TSKT terletak pada pendekatan sistemiknya yang tidak hanya berfokus pada keteraturan alam, tetapi juga mengintegrasikan prinsip kausalitas dan fenomena kekacauan sebagai bagian dari struktur argumentasi.
Menurut pemaparannya, ia menyampaikan bahwa TSKT diharapkan dapat menjadi kontribusi baru dalam kosmologi, khususnya dalam pengembangan argumen eksistensi Tuhan. Ia menilai teori tersebut menawarkan perspektif yang berbeda dari pendekatan-pendekatan sebelumnya karena dibangun melalui paradigma sistem yang bersifat dekonstruktif-rekonstruktif, bukan sekadar penggabungan teori-teori yang telah ada.