SERANG, (KB). –Akademisi Untirta Suwaib Amiruddin mendorong, anggota DPRD yang merupakan wajah baru tetap menjaga idealismenya untuk membangun masyarakat. Mereka tidak disarankan mengorbankan idealisme demi mengejar target argo, atau hanya mungumpulkan pundi-pundi untuk mengganti uang kampanye.
“Ada dewan-dewan baru banyak kabar bahwa dia menghabiskan anggaran yang besar juga (saat kampanye), jangan sampai idealismenya dikorbankan karena mengejar target argo,” katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (25/7/2019).
Ada tiga pokok yang penting yang harus dikuasi anggota DPRD wajah baru, yaitu fungsi legislasi, budgeting dan pengawasan. “Itu harus betul-betul dipahami oleh anggota baru,. Karena kalau misalnya dia tidak memahami itu, maka dia akan sulit di dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.
Agar bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja, para wajah baru sebaiknya belajar dari anggota yang sudah senior. “Belajar juga berarti bahwa dia harus mengikuti segala kebijakan yang berkaitan dengan politik praktis. Jadi anggota dewan baru secara persolan itu harus cepat belajar,” katanya.
Para wajah baru juga tidak perlu segan-segan menentukan pada komisi apa dia akan duduk, disesuaikan dengan kapasitas yang dimiliki. “Karena anggota dewan juga harus memahami tupoksinya pada saat duduk di komisi mana, itu harus betul-betul dipahami kebijakan terkait yang akan di jalankan oleh SKPD mitranya,” katanya.
Menurutnya, tidak elok jika anggota DPRD seolah-olah tidak memahami apa yang dibahas dengan mitra kerjanya. “Ini makanya dewan harus punya daya analisis yang tinggi. Kalau enggak punya daya analisis yang tinggi akan ketinggalan dianya, dewan harus banyak belajar,” ujarnya.
Meski harus belajar kepada yang sudah senior, tidak berarti para wajah baru harus selalu mengikuti keinginan Kemudian senior. “Biasanya yang selalu ikut dengan senior itu karena dia tidak punya kemampuan. Ini harus diarahkan kemampuannya, DPR yang baru ini harus betul-betul mampu sebagai anggota dewan, bukan mampu sekedar duduk,” ucapnya.
Disinggung apakah para wajah baru cukup bisa diandalkan akan menjaga idealismenya, ia bernada pesimis. Menurutnya idealisme seorang anggota DPRD akan terlihat jika sudah sah duduk.
“Karena kalau dewan itu sudah duduk lalu dia mengikuti jejak-jejak yang pragamatis, selalu cuma bicara honornya harus tinggi lalu bicara tentang dia harus dapat apa, berapa itu, saya kira enggak akan bisa idealis orang-orang seperti itu,” ujarnya.
Alumni Unpad Bandung ini menuturkan, berdasarkan kabar yang beredar tidak sedikit anggota wajah baru yang keluar uang banyak saat kampanye. Pada posisi ini mereka harus teguh terhadap pendiriannya. Mereka tidak dibenarkan mengejar target argo, atau hanya mengumpulkan pundi-pundi demi mengembalikan modal kampanye.
“Jangan banyak studi banding tapi lebih bagus mungkin melakukan analisa yang terjadi di daerah lalu dia putuskan secara idealisnya, bukan karena pragmatisnya,” ujarnya.
Terakit adanya potongan gaji anggota DPRD oleh partai, pembina Suwaib Amirudin Foundation (SAF) ini menilai, hal tersebut wajar. Sebab, partai memang membutuhkan suntikan dana agar mampu menjalankan program.
“Cuman memang partai jangan mencekik lehernya anggota, misalnya (gaji RP) 25 juta, disuruh stor (Rp) 20 juta, mislanya. Itumah keterlaluan,” ujarnya. (H-51)***(Anam-SAF)