Kalimat itu terucap dari murid saya dalam diskusi di Rumah Buku Suwaib Amiruddin Foundation (RB-SAF), bahwa desa harus menjadi perhatian pemerintah. Lalu saya bertanya, mengapa anda membuat pernyataan seperti itu?, dari penjelasannya saya menangkap ada 3 (tiga) point besar menurutnya pertama kampung halamannya sudah hampir tidak ada generasi muda atau generasi penerus untuk mau menjadi petani yang tekun; kedua lahan pertanian tidak cukup menjanjikan, karena lahan hanya tadah hujan; ketiga hasil panen petani sangat tergantung pada produktivitas lahan dan bukan pada luas atau sempitnya lahan persawahan dan maupun kebun.
Lalu saya menanyakan pada beliau, apakah orang tua anda seorang petani?, lalu jawabannya sangat meyakinkan bahwa orang tua saya seorang petani dan keahliannya diturunkan dari kakeknya. Artinya keluarga besar dari murid saya itu, tentu perlu diberikan apresiasi seorang petani yang memiliki komitmen untuk menggantungkan hidupnya di desa.
Pernyataan 3 (tiga) point itu, saya lalu memberikan solusi alternatif walaupun saya tidak berada dalam struktur pemerintahan, namun mungkin bisa menjadi pertukaran ide dan gagasan atas solusi yang dibutuhkan oleh beliau. Pertama minimnya ketertarikan generasi muda di desa untuk menjadi petani, sebenarnya minimnya semangat yang diberikan oleh pemangku kepentingan untuk harapan dan kesuksesan menjadi petani. Misalnya seorang petani ladang, saat ini tidak ada lagi harapan yang bisa ditanam dalam jangka pendek sehingga konversi lahan perladangan menjadi kawasan industri dan atau dibiarkan tidur dan tidak dikelola supaya produktif. Imbasnya generasi penerus dalam bidang perladangan tidak tertarik, karena tidak ada komoditas unggulan yang dapat memberikan harapan penghidupan layak.
Kedua lahan tidak subur atau lahan tadah hujan, tentunya dibutuhkan ketersediaan air agar lahan yang tandus dapat dikelola menjadi lahan produktif. Sebenarnya selama ini pemerintah sudah menyediakan kawasan embun atau sebut saja irigasi untuk pengairan bagi lahan tadah hujan. Usaha pemerintah untuk menyediakan irigasi bagi lahan pertanian, sebenarnya sudah menjadi bagian perhatian yang serius oleh pemerintah. Mungkin karena belum semuanya dapat terjangkau pengadaan irigasi pada lahan pertanian. Untuk itu pemerintah pusat perlu melakukan pemetaan lahan tandus dan kemudian melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah.
Ketiga orientasi produktivitas lahan merupakan salah satu kebutuhan yang sangat mendesak dipikirkan oleh pemerintah. Produktivitas bukan hanya dari segi aspek hasil tanamanya semata, akan lebih penting petani dibekali keilmuan dalam bertani yang produktif. Minimnya pengalaman petani dalam rangka produktivitas itulah, membuat petani semakin tidak memiliki kemampuan untuk berinovasi pada sektor pertanian. Pada akhirnya petani hanya dapat menanam sesuai dengan kebiasaan secara turun temurun, tanpa memperhatikan kualitas kebutuhan pasar.
Berbagai langkah dilakukan oleh pemrintah untuk memberikan semangat pada petani, diantaranya misalnya terkait issu tidak ada lagi kebijakan impor dalam bidang pangan. Berita baik ini, sebenarnya sudah bagian dari komitmen kebijakan pemerintah untuk memberikan kedaulatan petani di desa untuk lebih produktif. Namun sebaliknya kalaupun terjadi impor, maka alasannya adalah gagal panen atau musim panen kurang bersahabat. Sebenarnya kalau petani diberikan bekal yang baik untuk bertani dengan membaca cuaca alam, maka tentunya sangat tipis akan terjadi gagal panen.
Sebenarnya kalau pemerintah menciptakan sekolah pertanian bagi generasi muda, sebenarnya sangat bernilai untuk membangun semangat generasi muda yang mau tinggal di desa untuk bertani. Mungkin semacam sekolah atau diklat untuk bertani, dan diajarkan mulai dari mengolah lahan hingga pada produksi sampai pada pemasaran. Sebenarnya pemerintah sudah memiliki kebijakan menempatkan penyuluh pertanian, namun menurut hemat saya hanya lebih pada memberikan penguatan kelembagaan petani yang sudah ada, tanpa melahirkan petani generasi penerus.
Kalau petani dibekali semacam ilmu pengetahuan tentang bertani, anggaplah 3-6 bulan bersekolah dan setelah selesai pendidikan dan pelatihan, maka sudah ada kemampuan teknis tentang bertani dimiliki. Jadi mungkin lebih baiknya disebut sebagai generasi petani yang memiliki ilmu pengetahuan tentang bertani.
Kesimpulan akhir dari obrolan santai saya dengan murid saya itu, adalah sebaiknya pemerintah perlu menjadikan desa sebagai sumber generasi petani yang berilmu pengetahuan dengan muatan kurikulumnya mengetahui dan mengerti tentang kondisi tanah, kondisi iklim, jenis hama penyakit, pengolahan tanah, teknologi pengolahan dan jenis tanaman yang cocok di tanam. Kalau ini dilakukan oleh pemerintah, maka harapan kami dapat tumbuh generasi petani di desa yang tekun dan bersemangat, karena merasa petani itu sangat dihargai sebagai pengasil pangan di negeri ini. Dan kalau bisa pemerintah perlu memberikan apresiasi pada pejuang-pejuang generasi petani di negeri ini, dan kalau bisa diundang ke istana negara secara bergiliran dan diberikan gelar pahlawan menyelamatkan Indonesia sebagai kawasan agraris. Semoga sekolah petani non formal itu bisa terealisasi, semoga mendapat dukungan baik eksekutif maupun legislatif dan juga salah satunya adalah pemerintah daerah.