Suwaib Amiruddin Lahir di Gantarang 1 Mei 1974 sebuah desa di Kecamatan Kelara Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan ayah H. Amiruddin Daeng Sila (Alm) dan ibu Inrallang Daeng Te’ne. Pendidkan masing –masing diselesaikan di tanah kelahirannya di SDN Gantarang, SMPN Kelara, SMAN 2 Jeneponto.
Setamat SMA tahun 1993 hijrah ke Kota Makassar melanjutkan studinya di IAIN Alauddin (saat ini UIN Alauddin Makassar) pada jurusan Sejarah dan Kebudayaan, pendidikan Magister (S2) di selesaikan di Universitas Hasanuddin Makassar (Sosiologi), tahun 2003 beliau hijrah ke Kota Bandung Jawa Barat melanjutkan studi Program Doktor (S3) di Universitas Padjadjaran bidang kajian Sosiologi dan menyelesaikan studi tahun 2007.
Tahun 2004, Suwaib Amiruddin menjadi dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang-Banten. Selain di Untirta beliau juga berbagi ilmunya di Universitas Paramadina Jakarta, Universitas Muhammadiyah Tangerang; Universitas Islam Sultan Agung Semarang; dan Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta; selain mengajar beliau juga aktif membimbing Mahasiswa Program Magister di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sejak tahun 2009 diberikan amanah Jabatan struktural di almamaternya diantaranya sebagai Asisten Direktur II Bidang Administrasi dan Keuangan Program pascasarjana; Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik (MAP); selain struktural beliau juga diamanahi pengabdian di almamternya sebagai Pembina Gugus depan Gerakan Pramuka Untirta.
Tahun 2017 beliau juga mengabdikan diri di luar amamaternya, dan berkat ijin dari Rektor Untirta, beliau diminta untuk mengembang amanah di yayasan Setia Budhi untuk memimpin sebagai ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Setia Budhi Rangkasbitung Lebak- Banten 2017-2022. Namun Sejak Februari 2019 beliau mengundurkan diri sebagai ketua STISIP Setia Budhi, karena alasan kembali ke almamaternya (untirta).
Sekembalinya di kampus Untirta, beliau menginisiasi pembentukan Pusat Studi Desa dan Pesisir (Pusdep) di bawah naungan Magister Administrasi Publik Program Pascasarjana Untirta, fokus kajiannya konsentrasi pada kebijakan desa dan Kebijakan pesisir. Karena beliau berpandangan bahwa sebuah program studi membutuhkan wadah pengembangan dalam bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Untuk itu dibutuhkan wadah pusat studi, dan beliau diberikan amanah menjadi Kepala Pusat Studi Desa dan Pesisir.
Sebagai akademisi  Suwaib banyak melakukan analisis sosial melalui pendekatan sosiologi, sebagai sosiolog tulisan-tulisannya sudah banyak dimuat dibeberapa media Lokal maupun nasional. Ketajaman pemikirannya dalam menganalisis berbagai persoalan sosial, politik dan budaya, sehingga banyak diminta pandangan dan masukannya dalam berbagai forum-forum formal baik lokal maupun nasional. Sejak kiprahnya sebagai akademisi yang banyak memberikan warna dalam dinamika perkembangan masyarakat, dan di nobatkan sebagai Sosiolog yang kritis dan tetap santun dalam pembawaan dan tetap menghargai orang tua. Beliau juga dikenal sebagai ilmuan yang dermawan dan suka memberikan pencerahan pada masyarakat dan murid-muridnya.
Maka sejak tahun 2015 beliau didaulat oleh murid-muridnya yang sudah melanjutkan pendidikan Magister untuk mendidirkan Suwaib Amiruddin Foundation (SAF) sebagai Lembaga kajian keilmuan dan pengabdian pada masyarakat. Konsentrasi Suwaib dalam kiprah akademiknya lebih mengarahkan pada segmentasi kajian keilmuanya melalui penelitian dan perhatiannya pada masyarakat Desa, pesisir dan Nelayan.
Untuk melakukan kajian bagi kalangan murid-muridnya maka beliau mendirikan Rumah Buku Suwaib Amiruddin Foundation sebagai tempat untuk melakukan kajian-kasian intelektual berbasis isu-isu kontemporer. Rumahnya di hibahkan untuk mengembangkan talenta intelektual murid-muridnya dan sebagian besar pengurus rumah buku saat ini sudah melanjutklan studi pada jenjang Program Magister dan program Doktoral dan bahkan ada beberapa yang menjadi Dosen dan Pejabat Publik. Perlu diketahui bahwa Rumah Buku SAF sangat terbuka untuk umum baik sebagai wadah diskusi maupun kajian-kajian kelimuan, sekedar tahu bahwa alamatnya di komplek Persada Banten Blok D3 No 1 Kota Serang-Banten.
Sejak tahun 1998 Komitmen beliau pada konsentrasi keilmuannya tetap konsisiten melakukan penelitian pada masyarakat Desa, pesisir dan Nelayan, dan tulisan beliau dapat diakses pada jurnal nasional maupun jurnal internasional yang telah terpublikasi di media online. Lembaga SAF yang didirikan dan didaulat sebagai Pembina, saat ini SAF telah berkiprah dalam mencerdaskan anak-anak desa melalui pendirian perpustakaan desa di beberapa titik wilayah yang sangat terpencil. Kegiatan sosial itu bukan hanya di lakukan di Banten, namun di Pulau Jawa, tetapi bahkan sudah sampai di Sumatera dan Sulawesi.
Keinginananya untuk memajukan masyarakat nelayan dari aspek kesejahteraan bidang ekonomi, beliau pernah menyampaikan pada legislatif agar mendorong pendirian Perbankan (BANK) secara khusus komunitas nelayan tanpa agunan. Juga mendorong pembentukan koperasi desa melalui wadah pembentukan BUMDes sebagai soko guru perekonomian di desa. Menurut beliau penguatan BUMDes akan memudahkan tumbuhnya semangat baru bagi masyarakat desa untuk menggali potensi sumber daya alam desanya. Serta beliau juga mendorong peraturan desa tentang tata ruang yang teratur supaya jelas mana kawasan pertanian, persawahan, permukiman dan rencana pengembangan kawasan industri. Kalau itu dilakukan, maka tidak sembarangan orang asing atau orang luar melakukan pembelian lahan untuk investasi pada kawasan yang dianggap bukan untuk pengembangan industri. Kepala desa harus tegas agar desa tetap menjadi kebanggaan bagi penduduk yang bermukim di desa.
Sebagai putra asal Kota Makassar yang hijrah ke tanah Banten, tidak menyurutkan kiprahnya beliau untuk mengabdikan dirinya di tanah Banten, dalam berbagai kegiatan sosial dan pengabdian yang dilakukan beliau. Saat ini beliau sudah mengelilingi pelosok desa dan pesisir di tanah Banten, dan muncul idenya lagi untuk menginisiasi program Dosen mengabdi di desa melalui program dosen menginap di desa dan pesisir. Menurut beliau Dosen adalah harus menjadi pelita dalam membentengi potensi desa dan menerangi kemajuan di desa tanpa menghilangkan hak-hak ulayat mayarakat desa.
Menurut beliau bahwa masyarakat desa saat ini sudah hampir menjadi tuan rumah dikampungnya sendiri, apabila tidak dibentengi untuk mengembalikan kedaulatan desa pada posisinya. Masuknya industrialisasi dan revitalisasi lahan menjadi permukiman membuat desa akan kehilangan identitasnya, untuk itu dibutuhkan tenaga akademisi memberikan pencerahan bagi aparatur desa untuk memperkuat tatanan dan sistem pemerintahan atas kewenangan yang dimiliki oleh aparatur desa.
Mengarungi bahtera kehidupan beliau, saat ini didampingi oleh seorang istri berprofesi sebagai dokter spesialis anak dan sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran Unila bernama lengkap dr. Roro Rukmi Windi Perdani, Sp.A., M.Kes serta dua orang anak M. Riffat Dinedjad Amiruddin dan Aisyah Zahira Amiruddin.