KOTA SERANG, SNOL – Nelayan di wilayah Banten butuh keberpihakan politik. Sebab, nelayan saat ini kerap dijadikan suplemen kebijakan politik baik dari segi ekonomi maupun pemerintahan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh akademisi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten Suwaib Amiruddin, saat dimintai komentarnya, terkait kebijakan pemerintah terhadap nelayan di wilayah Banten saat ini, Senin (11/12).
Menurut Suwaib, nelayan merupakan komunitas yang dianggap sangat terpinggirkan dari berbagai akses baik secara ekonomi maupun kebijakan. Keterpinggiran itulah menyebabkan nelayan selalu menghadapi kondisi yang tidak menentu dari segi keberdayaan baik secara sosial maupun ekonomi. “Kita berharap nelayan jangan hanya komoditas politik saja saat Pilkada,” paparnya.
Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untirta itu menuturkan, yang terjadi saat ini nelayan seolah-olah dianggap sebagai warga negara yang berada pada kelas social
orang lain adalah satu garis senonoh yang tidak patut dilakukan atas dasar kepentingan apapun, apalagi harus merenggut hak hidup orang lain demi kepentingan politik,” ujarnya, Senin (11/12).
Bertepatan dengan hari HAM sedunia, momentum ini menjadi kesempatan yang elegan untuk menegur pejabat pemerintah. “Orang-orang yang ada di atas kekuasaan, terlebih Presiden Jokowi-JK sebagai pemangku kekuasaan tertinggi agar mengingat dan memperhatikan kembali bahwa pelanggaran-pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia hendaknya tidak sebatas menjadi sejarah di atas kertas,” kata dia.
Ia mengatakan persoalan HAM adalah persoalan kemanusiaan yang harus dituntaskan dengan keterbukaan yang selebar-lebarnya, agar harmonisasi antar sesama manusia dan sesama bangsa Indonesia tetap normal dan damai.
Ia menyebut pelanggaran HAM seperti perampasan lahan agraria, hilangnya beberapa aktivis, intimidasi terhadap orang yang dinilai subyektif dan pembunuhan-pembunuhan atas orang-orang yang melawan masih menjadi satu masalah yang terlalu larut untuk dibicarakan. “Ini terjadi karena mobilitas politik yang ada masih menjadi kendala sebatas di atas supremasi hukum, bukan supremasi keadilan.”
“Hukum tetap menjadi angin lalu yang tidak mampu menembus elit-elit oligarki yang mengendalikan ruang publik kekuasaan.” Namun demikian, ia mengharapkan ada perubahan dan pemulihan hak dari para korban. Hak asasi manusia harus dihormati dan dilindungi efektif.
“Kita bersama-sama, mencari jalan bagaimana merebut ruang politik agar instrumen demokrasi dan instrumen hak asasi manusia tidak lagi dibahas oleh elit oligarki demi kepentingan politik sekelompok orang saja,” ucapnya. (jpnn)-Humas SAF)
Sumber: http://satelitnews.co.id/2017/12/12/nelayan-butuh-keberpihakan-politik/