SOLIDNYA POLITIK DINASTI

Spread the love

Oleh : Dr. Suwaib Amiruddin, M.Si.

Sosiolog Untirta dan Ketua STISIP Setiabudhi Rangkasbitung

 

Politik merupakan salah satu pertarungan kepentingan yang sering berbenturan antar lawan dan pedukung dan bahkan antara pendukung dengan pendukung lainnya. Hal itu terjadi karena adanya perbedaan sudut pandang dalam pengambilan kebijakan di internal para elit politik. Perbedaan sudut pandang pengambilan kebijakan itulah sering menimulkan perpecahan yang pada akhirnya akan merugikan antar elit politik itu sendiri. Kejadian perpecahan itu bukan hanya di lingkungan partai politik, namun bisa terjadi pada massa dan simpatisan pendukung elit politik.

Budaya perecahan di internal elit dan partai politik itu, sebenarnya bukan hany pada penentuan calon kepala daerah, namun juga bisa terjadi pada penguasaan kursi di parlemen. Pertanyaan yang muncul saat ini adalah, sampai kapankah perpecahan internal elit politik itu akan berakhir? Dan mengapa hal itu sering terjadi perpecahan di internal elit politik. Perpecahan akan selalu timbul dalam elit politik, kalau semuanya berorientasi pada kekuasaan dan kepentingan sesaat semata. Bukankah elit politik itu, perlu memikirkan memajukan masyarakat dn membangun negeri ini dengan visi lebih jauh dimasa depan. Sepanjang masih ada tarik menarik kepentingan dalam internal elit politik, maka semuanya akan bermuara pada pisahnya elit politik yang satu dengan yang lainnya.

Fenomena perpecahan elit politik di pertengahan jalan, di negeri ini sudah sangat biasa terjadi dan dianggap sudah biasa-biasa saja. Akibat banyakanya terjadi konflik kepentingan dan perpecahan di internal partai itulah, maka masyarakat sudah muali antipati terhadap elit politik yang seringkali memainkan kondisi yang tidak memikirkan rakyat dan membangun daerah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perilaku yang tidak santun dalam elit politik itulah, akan mencerminkan politisi yang tidak dewasa dalam menanggapi berbagai persoalan di daerah. Elit politik hanya disibukkan dengan perpisahan sesama kawan dan sesama elit politik yang dikedepankan dibandingkan merekatkan barisan untuk memperkuat kebijakan politik yang berorientasi pada rakyat.

Merekatkan barisan elit politik, bukankah salah satu cerminan kedewasaan berpolitik untuk memajukan bangsa dan negeri ini. Bukan hanya sekedar mencari popularitas dalam menaikkan citra individu elit politik semata. Perpecahan yang dilakukan elitpolitik selama ini, hanya merugikan jalannya pemerintahan dan tidak akan menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini yang membutuhkan stabilitas politik dan kebijakan yang berorientasi pada rakyat. Kondisi nyaman dan tidak nyamananya masyarakat mulai dari tingkat desa hingga tingkat nasional, adalah butuhnya dukungan elit politik untuk merumuskan kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Lahirnya dan tampilnya politisi secara turun temurun selama ini dianggap telah mengakar dan solid dalam mendukung programnya. Selama ini penguasa yang berada di lingkaran dinasti “dianggap” memiliki komitmen untuk memikirkan stabilitas politik dan kesejahteraan masyarakat.  Kesejahteraan masyarakat sebenarnya dapat diperoleh jika elit politik merasa memiliki kesamaan pandangan dan kesamaan program kerja yang dapat dirumuskan secara bersama. Kehadiran elit politik dinasti itu, selama ini melaksanakan program kerjanya solid dan lebih terfokus. Betulkah demikian?, atau solidnya program kerja itu karena adanya kemauan untuk memajukan keluarganya dalam posisisi kepemimpinan pada segmen yang lain.

Membaca Peluang

Politik dinasti beberapa dekade ini telah menjadi realitas dan budaya politik yang berkembang di Indonesia, dan bahakan sejak era orde baru sudah dianggap bagian dari satu kesatuan pemerintahan. Kondisi di era reformasi semakin terbuka, dikala pemilihan dilakukan secara langsung oleh rakyat. Kesempatan politik dinasti semakin berkembang, karena  kaderisasi politik internal keluarga sangat jelas dan dapat terukur dengan baik. Politik dinasti bagaikan sebuah pengkaderan yang dilakukan secara terstruktur dan dipersiapkan secara matang.

Persoalan politik dinasti melibatkan keluarga secara terstruktur dalam melahirkan kader, selama ini sudah dianggap salah satu pendidikan yang terukur dan sangat jelas pengkaderan yang dilakukan. Kaderisasi elit politik itu sangat penting, dan bukan hanya pendidikan dan penguasaan dalam bidang kebijakan politik diperoleh pada saat dibutuhkan untuk ikut seleksi kepemimpinan saja. Keturunan keluarga elit politik yang melakukan kaderisasi sebenarnya perlu diapresiasi dan diberikan suatu penghargaan karena lahir politisi-politsi di internal keluarga yang secara berani tampil untuk dalam segmentasi pengambilan kebijakan di daerah maupun ditingkat nasional. Melahirkan leit politik tentunya membutuhkan pertimbanga-pertimbangan yang matang dan bukan hanya sekedar keberanian saja, namun dibutuhkan adanya kemampuan dalam hal kebijakan politik.

Elit politik yang lahir dari keluarga secara turun temurun, mendapatkan sorotan karena calon-calon politik yang dilahirkan belum dianggap memiliki kapasitas dan kapabilitas. Lebih ironisnya lagi lahirnya elit politik di internal keluarga dinasti ada kecenderungan dipaksakan untuk dapat tampil sebagai pemimpin di daerah. Realitas itulah yang selama ini dianggap tidak pantas dan tidak etis dalam sejarah perkembangan politik di negeri ini. Kemampuan dan kemapanan dalam bertindak untuk mengambil keputusan politik belum memadai, namun sudah dianggap cukup bagi kalangan internal keluarganya yang pada akhirnya hanya sekedar menjadi alat untuk mencapai keinginan keluarganya semata.

Perkuat Interaksi Antar Organisasi

Persoalan kemapanan dalam pengambilan kebijakan sebenarnya salah satu indikator yang sangat penting dalam kaderisasi elit politik, dan bukan hanya karena memiliki modal kekuatan keluarga semata. Kehandalan elit politik, sebenarnya dapat diperoleh dengan banyak belajar dan banyak berinteraksi dengan masyarakat sehingga dapat melakukan pengayaan-pengayaan yang tepat untuk dimasukkan dalam agenda kebijakan. Bermodalkan keluarga besar untuk menjadi elit politik, sebenarnya itu sah-sah saja, namun jangan sampai kecenderungan yang muncul bahwa elit politik itu muncul dan di turunkan ke gelenggang politik karena sekedar populer saja.

Memiliki modal populer dalam era politik saat ini sangatlah penting, namun yang jadi persoalan bahwa, apakah dengan popularitas yang dimiliki secara individu akan mampu mngantarkan kemajuan daerah dan bangsa ketika beliau terpilih menjadi pemimpin dan atau wakil rakyat. Sangsi dari hanya modal populer itulah sebenarnya tidak akan cukup tanpa ada pembenahan internal lingkaran dimana elit politik itu lahir. Kesempatan popularitas bagi elit politik yang lahir di internal dinasti politik, kurang memperhatikan kualitas, namun yang dikedepankan adalah  kemampuan untuk mempertahankan kekuasaan yang selama ini sudah di raihnya.

Kalau elit politik dinasti melahirkan kader-kader dari internal keluarganya dengan asumsi untuk mempertahankan kekuasaan yang telah di raihnya itu, maka pasti akan mendapatkan sorotan dari masyarakat, bahwa dinasti tersebut tidak berpihak kepada rakyat. Namun pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa selama ini politik dinasti tetap kuat dan bertahan pada posisinya, padahal dianggap banyak membuat persoalan-persoalan pembangunan di daerah tidak berjalan dengan baik.  Kekuatan politik dinasti yang selama ini digunakan pendekatan ke masyarakat berdasarkan segmentasi dan lebih menyentuh pada kelompok-kelompok sosial yang dianggap sudah solid untuk mendukung di daerah.

Secara sosiologis bahwa elit politik dinasti selama ini melakukan interaksi sosial pada kelompok-kelompok yang telah dianggap solid untk mendukung keinginan politiknya semata. Apabila sudah mendapatkan legitimasi dari kelompok-kelompok sosial yang telah mendukungnya itu, maka langkah selanjutnya melakukan “pemeliharaan” demi kemananan popularitas sang elt politik dinasti. Terpeliharanya kelompok-kelompok sosial itu, telah menjadi semakin kuat untuk melebarkan kekuasaan pengaruh politiknya. Menguatkan janji-janji politik pada kelompok-kelompok sosial binaanya dengan memberikan pengharapan dan program-program yang dapat terlaksana di lingkungan kelompok sosial pendukungnya.

Melalui faktor kedekatan antara elit politik dan kelompok sosial di masyarakat itu, dan memberikan program kerja pemerintahan, maka sudah dianggap bahwa keluarga penguasa atau kepala daerah sangat memperhatikan kebutuhannya. Melalui strategi pedekatan itulah, maka muncullah kelompok sosial pendukung fanatik dan mau melakukan apa saja untuk kesuksesan elit politik dinasti. Kemampuan elit politik dinasti bernegosiasi melalui program kerja pemerintah, karena selama ini kelompok elit politik dinasti sangat dekat dengan pemangku kebijakan. Lahirnya kedekatan antara elit politik dinasti dan kelompok sosial pendukung, karena masyarakat merasa tersampaikan keinginananya dan terpenuhi kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Kedekatan masyarakat dengan lingkaran elit politik penguasa di daerah dapat terjadi karena hampir semua segmen masyarakat di pelihara dengan baik. Selain itu, keluarga elit politik dinasti turut juga mengkondisikan kelompok masyarakat baik secara terstruktur maupun organisasi-organisasi masyarakat lainnya. Hal itu terlihat bahwa hampir organisasi kemasyarakat di tingkat daerah dipegang dan dikuasai oleh elit politik dinasti. Startegi penguasaan organisasi masyarakat di tingkat daerah hingga ke nasional itu, sebenarnya sebagai bagian pengkondisian untuk membina solidaritas antara program kerja pemerintah daerah dan program kerja organisasi yang terbentuk di tengah masyarakat.

Melalui realitas itulah, maka secara otomatis, maka mau tidak mau elit politik lokal sudah dianggap telah membina solidaritas yang kuat antara elit keluarganya dengan segmentasi masyarakat yang telah terbentuk selama ini. Melalui metode pendekatan pengusaan segmentasi masyarakat itulah, otomatis masyarakat merasa akan mudah mendapatkan akses ke pemerintahan untuk menjalankan program kerja organisasi. Terbinanya solidaritas itulah, maka masyarakat tidak memiliki pilihan lain untuk tetap membina hubungan baik antar elit politik dinasti yang sedang berkuasa dan mungkin akan semakin melibatkan diri baik secara individu dan mungkin biasa jadi atas nama organisasi untuk melibatkan dirinya di lingkungan elit politik dinasti.