Modal Sosial: Wujudkan Politik, Kesetiakawanan Sosial

Spread the love

            Manusia sebagai mahkluk sosial, tentunya memiliki kekurangan dan keterbatasan dalam segala aspek dalam menjalani kehidupan ini. Keterbatasan yang dimiliki itulah, maka perlu saling bahu membahu dalam mewujudkan berbagai kesulitan-kesulitan yang dihadapi masyarakat kita saat ini. Memaknai kesetiakawanan secara sederhana, tentunya menumbuhkan rasa kepedulian atas musibah dan bencana yang dihadapi sesame manusia di muka bumi ini, dan lebih terutama lagi komitmen kebangsaan kita semakin diperkuat dengan motto kesetiakawanan dalam bermasyarakat dan memanusiakan manusia.

            Momentum kesetiakawanan akan jauh lebih bermakna, apabila menghilangkan rasa dendam, rasa kebencian dan rasa iri hati atas jalinan kerjasama yang pernah kita lakukan dimasa lalu. Memang tidak bisa disangkal bahwa manusia sebagai mahkluk sosial tidak terlepas dengan adanya kepentingan yang ingin dicapai. Akan tetapi akan lebih indah apabila segala sesuatu capaian-capaian yang kita raih dengan sebuah kebersamaan untuk menatap masa depan bangsa dan terutama daerah kita saat ini. Keindahan dalam merajut kebersamaan dan kesetiakawanan dengan mendudukkan segala persoalan yang dihadapi dengan tangan terbuka dan melihat segala persoalan secara rasional.

            Merajut kebersamaan dengan berpikiran rasional, akan jauh lebih bermanfaat bila dibandingkan dengan memikirkan sesuatu dengan mengedepankan kepentingan kelompok dan golongan. Namun terkait hal itu, bukan berarti bahwa dengan Mengedepankan rasa untuk mewujudkan kepentingan pribadi dan atau kelompok itu “dilarang” dan bahkan dibatasi,  tentunya tidak. Karena manusia sebagai mahkluk individu memiliki hak konstitusi kebebsaan dalam menyampaikan pendapat dan rasa ingin mewujudkan keinginanannya untuk  kepentingan pribadinya. Komitmen manusia sebagai mahkluk individu, tentunya perlu lebih bersifat apresiasi atas segala seuatu yang terjadi dilingkungan sekitarnya agar bangsa kita dapat damai.

            Kepekaan secara sosial, merupakan modal yang terpenting dilakukan oleh masyarakat dan pemamngku kebijakan. Disaat bangsa kita mengalami berbagai persoalan-persoalan yang memerlukan campurtangan berbagai pihak untuk menemukan solusinya. Berbagai persoalan keresahan sosial yang muncul dibangsa kita saat ini , diantaranya  adalah pertengkaran atas lahan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga pada kegiatan yang mengarah pada krisi moral. Memang berbagai fakta itu, telah mengantarkan bangsa kita akan terpuruk dimata masyarakat dan bahkan dunia internasional. Keterpurukan yang dialami atas berbagai persoalan itu, bukan berarti bahwa kita akan larut dalam kesedihan dan pertengkaran yang berkepanjangan.

            Secara sosiologis, bahwa memikirkan soslusi atas segala persoalan yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini, akan jauh lebih memiliki makna. Bila dibandingkan dengan menyalahkan kelompok atau golongan yang pada muaranya akan melahirkan sebuah ketidakpedulian terhadap sesama. Saling menyalahkan pun bukan menjadi  sarana yang terbaik dalam mewujudkan bangsa ini menjadi besar. Kebesaran bangsa Indonesia yaitu terletak pada masyarakat yang sopan dan santun dalam bermasyarakat. Demikian pula elit politik kita perlu menjunjungtinggi nilai-nilai etika sopan dan santun. Kalau kesepakatan itu sudah ada, maka segala persoalan yang dihadapi akan pula kita beretikan sopan dan santun dalam menyikapinya.

Etika Dan Tauladan

Kesopanan dan kesantunan, sebenarnya merupakan warisan leluhur anak bangsa pada masa lalu, yang perlu dijadikan suri tauladan oleh elit politik kita saat ini. Bukan dengan mempertontonkan perasaan “benci” terhadap sesamanya. Perilaku Masyarakat kita saat ini akan mengarah pada rasa saling membenci apabila elit politik kita selalau mempertontonkan rasa kebencian pada sesame elit politik. Bukankah elit politik, merupakan suri tauladan masyarakat dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Jangan sampai elit politik sibuk dengan melontarkan rasa kebencian pada sesame elit politik. Kalau perilaku it uterus berlanjut, maka bisa saja kan berakhir pada situasi masyarakat akan berbuat lebih “anarkis”  dalam membenci elit politik.

            Mempererat tali kesetiakawanan soaial, tentunya akan jauh lebih mengarahkan hidup masyarakat kita untuk dapat keluar dari persoalan sosial yang dihadapinya. Kestiakawanan merupakan modal utama harus ditanamkan kepada elit politik kita saat ini untuk mencarikan solusi atas kemiskinan dan pengangguran yang dihadapi masyarakat saat ini. Demikian pula halnya bencana alam yang dirasakan langsung  oleh masyarakat, terutama yang bermukim di lokasi bencana alam. Untuk menemukan solusi, tentunya elit politik saling bahu membahu untuk menyatukan pemikirannya dan diarahkan kepada persoalan yang sangat krusial tersebut.

            Persoalan dari hari kehari, tentunya tidak akan pernah berakhir sepanjang dinamika kehidupan manusia tetap dinamis. Namun dinamisasi itu, perlu disikapi dengan arif dan bijaksana dan tidak memandang kelompok dan golongan tertentu saja. Menolong “tanpa pamrih”  merupakan modal sosial yang sangat penting dilakukan saat ini. Bukan malah sebaliknya melakukan segala aktivitas dengan mengharapkan imbalan yang dikemas dalam jasa profesional. Kalau itu yang terjadi, maka bisa saja dinamika kehidupan sosial kita hanya diukur dengan material yang bersifat ukuran-ukuran kebutuhan hdup semata. Padahal bangsa kita saat ini sangat jauh dalam mewujudkan solusi-solusi sosial.

            Cerminan kehidupan masyarakat dengan modal sosial, sebaiknya dan seharusnya dimulai dari elit politik sebagai anutan masyarakat. mengapa harus dimulai dari elit politik? Karena elit politik kita sampai saat ini tetap menjadi contoh tauladan dan anutan dalam berkehidupan sosial kemasyarakatan kita. Namun apabila elit politik kita, tidak memulainya, maka tentunya rasa cemas akan melanda masyarakat kita untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang dibangun dengan bahu membahu, sebagaiman cita-cita para pemimpin kita dimasa lalu. Bangsa ini diwujudkan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat dengan kebersamaan dan kesetiakawanan untuk menjadi bangsa yang besar dan diakui oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Kesadaran Kolektif

            Penyadaran elit politik akan pentingnya kesetiakawanan sosial, tentunya bukan hanya pada saat mendekati detik-detik agenda besar politik saja. Akan tetapi rasa kesetiakawanan sepatutnya di agendakan disetiap masa dan disetiap waktu. Dan bahkan rasa kesetiakawanan pun itu, sebaiknya tidak perlu diagendakan. Karena jangan sampai membudayakan rasa kesetiakawanan sosial itu terjalin dengan kuat disaat menjelang pemilu dan pemilukada. Kalau hal itu terjadi, maka kedewasaan elit politik kita dalam melihat segala persoalan yang melanda masyarakat kita belum terealisasikan dengan baik.

            Jangan sampai pula rasa kesetiakawanan dibingkai   dengan “anjang sana” atau kunjungan politik. Sehingga sudah susah dibedakan antara kunjungan agenda kampanye politik dengan agenda mempererat tali kesetiakawanan. Kegiatan itu, tentunya tidak menyalahi aturan dan bahkan pun tidak dilarang, namun yang terpenting adalah elit politik perlu menjunjung tinggi nilai-nilai dan etika dalam melakukan setiap langkah dan kegiatannya. Mengunjungi masyarakat yang terkena dampak lingkungan maupun sosial, tentunya sudah menjadi kegiatan yang terpuji sebagai umat manusia maupun sebagai umat yang beragama. Sehingga setiap melakukan kunjungan dengan merajut kesetiakawanan terhadap sesame umat manusia merupakan suatu sifat yang terpuji dan dianjurkan dalam ajaran agama.

            Kegiatan merajut kesetiakawanan itu, akan lebih bermanfaat dan lebih bermakna kalau dilakukan secara tulus dan ihklas.  Menolong sesama umat mansuia untuk dapat keluar dari persoalan yang dihadapinya, tentunya suatu kepuasan tersendiri bagi orang-orang yang ditolong. Sehingga sebaiknya elit politik perlu melakukan kegiatan sesering mungkin utuk memeprjuangkan hak-hak masyarakat yang mengalami kesulitan-kesulitan dilapangan. Bukan hanya elit politik disibukkan dengan dunia kerjanya dengan membuat polemik yang dipertontonkan dihadapan masyarakat yang pada akhirnya akan menurunkan citra elit politik itu sendiri sebagai anutan masyarakat.

            Mengurangi rasa “egois” dan “arogansi” dalam mempertahankan pendapat ditataran elit politik, tentunya merupakan modal utama untuk membangun bangsa maupun daerah kita yang membutuhkan kebijakan-kebijakan yang mengedepankan rasa kebijaksanaan.  Kesetiakawanan akan tertata dengan baik apabila setiap persoalan dihadapi dengan rasa arif dan bijaksana. Menghilangkan rasa dendam dan rasa ketidaksepahaman merupakan modal paling utama untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sosial ekonomi yang dihadapi oleh Indonesia saat ini mulai dari tingkat pusat hingga pada tingkat daerah. Menghargai pendapat dan menerima kekalahan merupakan suatu hal yang sangat bijaksana dalam menata masa depan Indonesia dan daerah kita saat ini.

Suwaib Amiruddin

Sosiolog Untirta