Masyarakat Kuota

Spread the love

Kehadiran jejaring sosial dalam masyarakat digital, seolah telah memaksa agar selalu memiliki kuota. Bahkan setiap bertemu teman dan sahabatnya yang pertama ditanyakan bukan kabarnya, namun apakah saudara punya kuota?. Mungkinkah itu sudah menjadi tradisi yang seakan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan antara manusia dan kuota media sosial. Keseharian hidup masyarakat digital seakan tidak dapat beraktifitas bila tidak ditemani teknologi dan bahkan kalau hilang digenggamannya.

Mungkinkah kita sudah menjadi manusia yang sangat tergantung pada kehadiran teknologi digital beserta kuotanya. Setiap hari kita menyaksikan mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, teknologi digital menemani masyarakat pengagumnya. Ataukah jangan-jangan manusia tidak dapat beraktifitas tanpa ditemani oleh teknologi digital, dan atau merasa ada yang kurang apabila tidak berada disisi teknologi digital.

Untuk mencapai keinginan masyarakat digital seolah-olah tidak berjalan normal apabila tidak mendapatkan informasi dari media. Perolehan informasi keseharian dan kebutuhan manusia bukan lagi diperoleh dari tetangga, sanak keluarga, kerabat dan bahkan dari orang-orang terdekatnya. Informasi valid terkait kebutuhan masyarakat, lebih banyak diperoleh dari teknologi digital, sehingga ketergantungan pada teknologi sudah menjadi budaya. Hidup tanpa teknologi seakan-akan ada yang hilang dalam kebutuhan hidup masyarakat digital. Kehidupan masyarakat digital hanya dapat beraktifitas apabila didukung oleh teknologi, misalnya untuk memperoleh referensi pendukung pekerjaannya, sehingga pada muaranya teknologi merupakan teman hidupnya.

Penggunaan media sosial sebagai media bertukar informasi sudah menjadi kebiasaan yang tidak terpisahakan antara gaya hidup dan kebutuhan. Kehadiran media sosial ditengah masyarakat sudah berbanding lurus dengan kebutuhan dasar kehidupan masyarakat. Karena sudah menjadi bagian dari kebutuhan dasar, maka mau tidak mau sudah menjadi skala prioritas untuk dipenuhi. Faktanya, masyarakat lebih cenderung membeli kuota pulsa internet sebagai pendukung media sosial, bila dibandingkan dengan kebutuhan makan misalnya, karena menyiapkan makan masih bisa ditunda. Sedangakan kuota pendukung media sosial akan terputus komunikasinya bila tidak ada kuota pulsa pendukungnya.

Betulkah media sosial sudah menjadi salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi dibandingkan dengan kebutuhan makan?, kalau itu sudah terjadi maka asumsi awal yang perlu dipertegas adalah, betapa masifnya keberadaan media mempengaruhi pola hidup masyarakat digital. Kehadiran masyarakat digital, diharapkan untuk tidak terlalu eforia menjadikan media sebagai kebutuhan yang sangat mendasar, namun seharusnya keberadaan media dijadikan sebagai pendukung kebutuhan hidup. Menjadikan media digital sebagai pendamping kebutuhan hidup, itu sangat sah-sah saja, namun jangan dijadikan media sebagai “sahabat sejati”  sehinga mengikis nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan serta interaksi yang ada disekitar hidup kita sebagai manusia yang bermasyarakat.

Kehadiran masyarakat digital, sebenarnya masyarakat yang tumbuh dan berkemabang setiap hari berdasarkan segmentasi media sosial yang digunakan. Perttumbuhan jumlah masyarakat digital itu, bukan hanya ada diperkotaan namun sudah sampai masuk pada masyarakat perdesaan. Kehadiran masyarakat digital, sebenarnya menjadi ajang pangsa pasar yang sangat menjanjikan dalam dunia bisnis media saat ini, terutama pengelolaan pemberitaan dan informasi serta aplikasi pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Kehadiran masyarakat digital agar tetap dapat berjalan dengan baik, akur dan terbina rasa aman dan nyaman, maka perlu saling mengingatkan satu sama lainnya bahwa hidup ini perlu memperhatikan rambu-rambu dan tata nilai dalam berinteraksi sosial.

 

Suwaib Amiruddin

Sosiolog dan Ketua STISIP Setia Budhi