Kembali Pada Nilai-Nilai Kebersaamaan Bhineka Tunggal Ika

Spread the love

Hasil gambar untuk bhineka tunggal ika

Layaknya bangsa dan negara yang sedang berkembang, maka indonesia terus melakukan perbaikan dalam pembangunan. Pembangunan bangsa indonesia harus berlandaskan pada semboyan Bhineka Tunggal Ika”, artinya berbeda-beda tapi satu jua. Perbedaan indonesia memang sangat kompleks, karena masyarakat indonesia sangat beragam mulai dari suku, bahasa, ras, dan agama. Nilai yang terkandung dalam semboyan tersebut ialah nilai harmonisasi dan nilai keadilan.

Apabila ditelaah secara lebih dalam, maka dapat ditemukan ada 3 (tiga) nilai yang terkandung dalam nilai-nilai Kebhinekaan, yakni: 1) Nilai Toleransi, merupakan satu sikap yang mau memahami orang lain sehingga komunikasi dapat berlangsung secara baik; 2) Nilai Keadilan, merupakan satu sikap mau menerima haknya dan tidak mau mengganggu hak orang lain; dan 3) Nilai Gotong Royong/Kerjasama, merupakan satu sikap untuk membantu pihak/orang yang lemah agar samasama mencapai tujuan.

Bila diterjemahkan lebih jauh, nilainilai Bhinneka Tunggal Ika sebagai nilai yang menjadikan rakyat/warga negara dapat hidup dan menata kehidupan bersama dengan harmonis, bersatu sebagai kekuatan pembangunan negara, pada dasarnya tidak berbeda, dan justru sangat relevan dengan nilainilai kebangsaan yang dipersepsikan dari silasila Pancasila, yaitu : a) Kesederajatan; b) Kebebasan; c) Nondiskriminasi; d) Pengorbanan; e) Kekeluargaan; f) Keseimbangan; g) Kepedulian; dan h) Produktivitas

Relevansi nilai-nilai kebhinekaan tersebut membuktikan bahwa indoneasia merupakan bangsa yang menjujungjung tinggi pada persamaan di atas perbedaan maka indonesia harus membangun dengan kebersaamaan. Sebuah kebersamaan dapat melunturkan sebuah perbedaan menjadi sebuah persatuan. Hal ini pun terlihat pada perjuangan pendahulu yang memperjuangkan bangsa ini secara bersama. Sebagai pembuktian, menilik pada masa perjuangan dalam upaya kemerdekaan semua elemen indonesia bersatu demi memperjuangkan bangsa dan negara yang berdaulat. Mulai dari masyarakat sipil, pemuda, aparatur pemerintah bahkan beberapa orang asing ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Misalnya, perjuangan para pemuda yang begitu menjunjung tinggi nilai persatuan bangsa. Padahal jika kita lihat latar belakangnya mulai dari agama, suku, bahasa, ras yang berbeda. Tetapi, mereka mampu menjadi satu kesatuan yang utuh dan mampu membuat sebuah gerakan sumpah pemuda. Sumpah pemuda menjadi sebuah gerakan yang absolut pembuktian bahwa pemuda indonesia sangat menjungjung tinggi persatuan. Walaupun di dalam perhimpunan tersebut terdapat van wong Java (orang jawa), van wong Sumatera (orang suamtera) dan lain sebagainya. Selain itu, para pemuda mampu menginisiasi sebuah deglarasi sumpah, yang disebut sebagai Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Pertama, kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Air Indonesia.

Kedua, kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga, kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Dari butir-butir sumpah pemuda di atas, tentu tercermin bahwa pemuda sudah satu suara dalam penegakkan bangsa indonesia, tanah air indonesia, dan bahasa indonesia sebagai pemersatu bangsa. Tidak memperlihatkan ego sentris antarsuku, antarras, dan antaragama. Tentu ini menjadi panutan yang metsi diterap dalam mengisi kemerdekaan dan melakukan pembangunan bangsa indonesia saat ini. Berjalan secara bersama dalam melakukan perubahan menuju kemajuan yang lebih baik. Sebagai regenerasi penerus bangsa yang sudah diwarisi berbagai macam perbedaan, tentu kita harus dapat mempersatukan semuanya. Agar terwujud masyarakat yang harmonis, saling menghormati, bahkan saling bahu-membahu dalam sebuah persatuan.

Kondisi harapan Bhineka Tunggal Ika di atas, nampaknya harus kita implementasikan demi terwujudnya indonesia yang damai. Karena jika kita menilik kejadian akhir-akhir ini di indonesia, banyak sekali hal-hal yang dapat memecah-belah nilai-nilai persatuan. Misalnya penyerangan antarsuku sering terjadi, perseteruan antaragama, bahkan perseteruan dalam satu agama pun sering terjadi. Hal ini menjadi indikator bahwa sudah menurunnya nilai-nilai persatuan bangsa indonesia.

Dalam kondisi indonesia saat ini tentu akan lebih baik jika kembali pada implementasi nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika. Nilai-nilai tersebut dapat kita turunkan menjadi nilai-nilai kebersamaan dalam konsep sosial. Pada dasarnya, nilai-nilai kebersamaan sudah melekat pada bangsa indonesia. Tinggal bagaimana regenerasi bangsa indonesia dapat mengkaji dan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut.

Pada dasarnya, sosial Dalam Kamus Sosiologi dan kependudukan didefinisikan sebagai hubungan seseorang individu dengan lainnya dari jenis yang sama atau pada sejumlah individu untuk membentuk lebih banyak atau lebih sedikit, kelompok-kelompok yang terorganisir, juga tentang kecenderungan-kecenderungan dan impuls-impuls yang behubungan dengan lainnya. Selain itu, R. Soegarda Poerbakawatja dan H. Ali Harahap dalam Ensiklopedi pendidikan mendifinisikan sosiologi adalah penyesuaian kepentingan atau sifat-sifat umum dari masyarakat dengan menyisihkan atau melebur kepentingan-kepentingan dengan hasil timbul atau keadaan yang stabil serta harmonis. Sekait dengan hal yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sosial merupakan upaya keselarasan yang mengarah pada kepentingan bersama agar terciptanya hubungan yang senada.

Bertolak dari hal yang dikemukakan di atas tentang konsep sosial, lalu di kaitkan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, maka perlunya keselarasan yang akan meleburkan hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan menjadi sebuah persatuan yang kokoh dan utuh sebagai bangsa indonesia. Konsep sosial yang paling sederhana dengan adanya gotong-royong. Bagaimana nilai-nilai kebersamaan nampak jelas dalam gotong-royong tersebut. Balutan saling mengasihi, menyayangi bahkan kerja sama sangat nampak. Sebagaimana Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa go·tong ro·yong v bekerja bersama-sama (tolong- menolong, bantu-membantu): masyarakat berhasil membangun sebuah masjid yg megah secara –; pasir, batu kali, dan material lainnya untuk membuat jalan itu dikumpulkan secara — oleh warga desa;

Dalam gotong-royong dapat ditemukan nilai ikhlas (sukarela) dalam sebuah pembangunan. Sebagai contoh, ketika di sebuah masyarakat desa terdapat pembangunan inprastruktur tempat peribadatan (Masjid). Maka, semua warga masyarakat rela membuawa bahkan menyumbangkan yang ia miliki demi kelancaran dan penyelesaiaan pembangunan tersebut. Ada yang membawa cangkul, golok, tempat sampah, sapu, menyumbangi cat, semen, pasir, bahkan secara bergantian menyiapkan amunisi untuk orang-orang yang bekerja. Bukan sekadar itu, bahkan yang melakukakan pekerjaan tersebut pun berasal dari warga masyarakat yang tidak meminta bayaran. Semua dilakukakan secara bersama-sama dan sukarela.  

Dalam konteks pembangunan bangsa indonesia Nilai sukarela ini lah yang seharusnya dilakukan untuk perkembangan Indonesia menuju lebih baik. Dari banyaknya keanekaragaman yang ada, melakukakan peran masing-masing sesuai dengan kemampuannya dalam memajukan bangsa indonesia. Semua elemen masyarakat merasa bertanggungjawab atas bangsanya, semua lapisan masyarakat merasa terpanggil menjadi kesatuan dalam pembangunan. Saling mendukung dan menguatkan tugas dan perannya dalam pembangunan, karena sesuatu hal yang dilakukakan dengan banyak dorongan akan terasa lebih mudah dan membakar semangat untuk bertindak mengambil bagian bergotongroyong dalam keajuan bangsa.  

Ditulis Oleh : Tubagus Rahmat (Direktur SAF)