Desaku: Masih Milik Anak Desa Atau Siapa?

Spread the love

Secara termonologi siapakah anak desa itu?. Dalam hal ini saya memberikan terminologi sederhananya bahwa anak desa adalah masyarakat atau anak-anak yang menetap yang cukup lama tinggal dan menetap dalam wilayah tertentu dan memegang nilai-nilai lokalitasnya. Bisa juga diterminologikan bahwa anak desa sebenarnya selalu dialamatkan bagi anak-anak yang lahir di desa lalu mengabdi di desa, dan bahkan juga bisa dialamatkan pada anak-anak desa yang berpindah tempat tinggal ke perkotaan karena panggilan pendidikan dan atau pekerjaan profesi lainnya. Tentu kalau memaknai pertanyaan itu, sangatlah sulit untuk diterjemahkan secara aplikatif ataupun dimaknai secara kebahasaan.

Namun ada suatu diskusi kelompok kecil yang pernah dilakukan oleh mahasiswa dan memberikan terminologi bahwa siapa anak desa itu?. Ada yang memberikan jawaban bahwa kami dan kita semua ini sebenarnya berasal dari desa. Ternyata analisis mereka melahirkan suatu kesimpulan bahwa untuk menjawab pertanyaan itu diperlukan pendekatan geografis administratif pemerintahan. Artinya dilihat dari segi pengwilayahan bahwa kalau administrasinya diatur oleh desa maka itulah desa dan juga penduduknya adalah anak desa.

Pertanyaan berikutnya adalah, kalau sekiranya kita dan kami sebagai anak desa, apakah masih ada yang peduli terhadap desanya mulai hari ini dan masa depan desa kita dan kami?. Jawabannya tentu beranekaragam, tergantung pada segmentasi manakah mereka anak desa itu mau membangun desanya. Atau jangan-jangan sudah tidak mau dianggap lagi sebagai anak desa, karena anak desa secara gaya hidup dianggap “tertingggal, kampungan dan tidak mengikuti perkembangan”.

Sebagai anak desa, bukan hanya bermain pada gaya hidup semata, namun yang dibutuhkan sebagai anak desa adalah kontribusi apakah yang dapat dilakukan agar desa tetap menjadi wilayah mandiri dan dapat memberikan kesejahteraan untuk anak-anak desa. Perlu dicermati bahwa sumber terbesar penghidupan masyarakat desa adalah bidang agraris dan hasil tanaman berkebun. Persoalannya adalah, apakah anak desa hari ini masih mau terjun secara langsung untuk mengelolah agraris pertanian?

Secara sosiologis bahwa fenomena anak-anak desa hari ini lebih banyak mengejar pekerjaan yang cepat mendapatkan materi (=uang tunai), sehingga mereka lebih cenderung berlomba-lomba ke kota dan bekerja pada sektor pelayanan jasa dan buruh industri. Perpindahan penduduk yang besar itulah, telah menghilangkan keahlian anak-anak desa sebagai asset membangun desanya menjadi wilayah yang makmur dari sektor pertanian dan agraris.

Karena ketidakmauan mengelola desanya itulah, maka orang-orang luar “(=asing)” masuk menguasai desa dan membeli lahan pertanian sedikit demi sedikit dan pada akhirnya akan dikuasai sepenuhnya oleh orang-orang luar tersebut. Jadi kalau begitu jangan-jangan orang asing tersebut akan menguasai lahan kita dan kami untuk membangun kawasan perumahan dan industri? dan atau jangan-jangan dialah akan menjadi anak desa menggantikan kita dan kami di waktu yang tidak terlalu lama lagi. untuk menjawab polemik itu, mari  mengembalikan pada kita dan kami, bahwa apa menjadi kontribusi terbaik untuk mempertahankan lahan dan kekayaan desa hari ini dan masa yang akan datang.

 

Suwaib Amiruddin

Sosiolog dan Ketua STISIP Setia Budhi Rangkasbitung