Artis Dinilai Tidak Dongkrak Suara Signifikan

Spread the love

CILEGON, BANTEN RAYA – Pemilihan Walikota (Pilwakot) Cilegon saat ini mulai dilirik oleh para artis ibukota. Setelah sebelumnya ada Firman Mutakin atau yang dikenal di jagad hiburan sebagai Lian Firman, saat ini juga ada nama Adly Fayruz yang santer dikabarkan akan maju dalam kontestasi Pilwakot Cilegon 2020.

Kegiatan politik sudah mulai dilakukan Bakal Calon (Balon) Wakil Walikota Cilegon Lian Firman dengan pasangannya Balon Walikota Ali Mujahidin yang akan maju melalui jalur independen ini dengan menghadiri acara di Car Free Day, beberapa waktu lalu.

Sementara Adly Fayruz yang digadang-gadang akan maju sebagai Balon Wakil Walikota dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) juga sudah mulai memasang alat peraga di jalan protokol Kota Cilegon.

Pengamat Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang Suwaib Amiruddin mengatakan, fenomena artis maju dalam Pilkada telah terjadi di beberapa daerah sejak beberapa tahun lalu. Akan tetapi, kondisi di setiap daerah dinilai tidak sama. “Saya rasa tidak menjamin, dengan menggaet artis akan mendongkrak suara yang banyak,” kata Suwaib kepada Banten Raya, Kamis (26/3).

Suwaib menerangkan, artis hanya memunyai popularitas di jagad hiburan. Artis baru akan muncul di permukaan. “Apalagi, kalau artis terjunnya ketika pertandingan (Pilwalkot) akan dimulai saja, tentu tidak akan efektif,” tuturnya.

Akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini menjelaskan, Pilkada dan Pemilihan Legislatif (Pileg) tentu berbeda. Jika pada Pileg, kesempatan artis cukup besar lantaran sang artis akan berusaha semaksimal mungkin mendulang suara bermodalkan popularitas keartisannya. Sementara di Pilkada, sang artis tidak hanya bisa bekerja sendiri untuk untuk mendongkrak suara. “Tidak bisa disamakan antara Pileg dan Pilkada. Kalau di Pileg, memang banyak artis yang sukses menjadi wakil rakyat karena popularitasnya,” cetusnya.

Adanya fenomena parpol yang menggaet artis untuk maju dalam Pilwakot, kata Suwaib, akibat kaderisasi yang maksimal. Padahal, seharusnya parpol bisa memberikan kesempatan kadernya untuk maju dalam kontestasi Pilkada. “Menurut saya partai jangan hanya mengejar calon yang populer, tetapi juga mengejar calon yang memunyai akar dan pengalaman kepemimpinan,” tuturnya.

Ia menambahkan, kepala daerah nantinya diperlukan untuk memimpin. Sehingga, perlu adanya pemimpin yang sudah berpengalaman dalam proses kepemimpinan. “Sementara artis dikenal bukan sebagai pemimpinn tetapi sebagai orang yang terkenal karena profesinya dan bukan kepemimpinannya,” tutupnya. (gillang/Humas SAF)
Sumber: http://bantenraya.com/berita/2020/03/27/13565/artis-dinilai-tidak-dongkrak-suara-signifikan #ixzz6IAAdnsun