Suwaib Amiruddin: Pemilu 2019 Hindari Permusuhan

Spread the love

Pemilu 2019 merupakan momentum pesta demokrasi ujian dalam pemilihan secara langsung untuk eksekutif dan legislatif. Kalau momentum demokrasi ini kita lewati dengan damai, aman, nyaman dan berintegritas, maka kita akan selamat pada pesta demokrasi berikutnya. Fase pesta demokrasi berikutnya akan dilangsungkan pemilihan umum secara serentak untuk jabatan politik mulai dari kepala daerah, presiden hingga anggota legislatif. Hal itu disampaikan Suwaib Amiruddin sosiolog Untirta pada sela-sela kegiatan diskusi Lesehan yang diselenggarakan oleh Rumah Buku Suwaib Amiruddin Foundation (24/1) di Komplek Persada Banten Blok D3 No.1 Kota Serang.

Menurut Suwaib Pelaksanaan pemilu 2019 sebagai ujian yang sangat berat,  terutama dalam hal pemilihan presiden dan wakil presiden, yang mana calonnya hanya ada dua pasang. Dan hangatnya lagi karena pasangan yang bertarung saat ini adalah pasangan yang sudah ikut kontestasi pada pemilihan presiden 2014 yang lalu. Ibaratnya kalau dalam pertarungan tinju, ini sudah ada pemegang sabuk juara dan dianggap tidak puas, maka dilakukan tarung ulang, jadinya sangat sengit. “Ungkapnya”

Karena situasinya sangat riuh, maka penonton pun ikut riuh. Sama kalau diibaratkan pada Pilpres 2019 ini, hampir semua penonton ikut berteriak dan mengambil peran untuk menyampaikan yel-yel sebagai tanda semangat. Mungkin sikut-sikutan dan menggunakan pengeras suara, media cetak dan media elektronik agar lebih terdengar apa yang disampaikannya, sehingga wajar kalau situasinya ada yang merasa tersinggung, dikerdilkan dan mungkin merasa tersisihkan dari arena pertarungan pemilu 2019.

Untuk kita dapat menghargai pertarungan ini, maka gunakanlah prinsip kebijaksanaan, agar kita menjadi orang yang bijak dalam pertarungan pilpres. Kalau kita sebagai suporter, simpatisan atau bagian dari orang yang bertarung, maka lebih baik kita membicarakan terkait kualitas calon presiden melalui visi dan misi kebangsaan yang akan beliau usung dalam membangun negeri ini. “ujarnya”.

Marilah kita menghargai sesama anak bangsa, baik itu calon presiden dan wakil presiden dan juga calon anggola legislatif, karena bagaimanapun semua yang dipikirkan semata-mata untuk membangun negeri ini. Jauhkan sikap egoisme, perdebatan yang bermuara pada pertengkaran dan saling curiga mencurigai. Jadikanlah pemilu 2019 sebagai momentum untuk mempersatukan negeri ini yang akur, bersahaja dan tidak menimbulkan intimidasi, saatnya menghindari permusuhan dalam perbedaan pandangan politik dan pilihan politik. “pesannya”. (Anam-SAF)