Serang 28 Oktober 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Rumah Buku SAF menggelar diskusi bertajuk “Menakar Arah Gerakan Mahasiswa: Refleksi Semangat Sumpah Pemuda di Era Kontemporer.” Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi pemuda lintas organisasi untuk bertukar gagasan, merefleksikan dinamika gerakan mahasiswa, serta membahas pentingnya persatuan di tengah perbedaan.
Diskusi yang dimoderatori oleh Ismetullah ini menghadirkan sejumlah pandangan mengenai perbedaan gerakan pemuda dahulu dan sekarang, tantangan organisasi mahasiswa, serta upaya membangun kembali semangat kolektif dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Bisman mengawali diskusi dengan mengulas sejarah lahirnya Sumpah Pemuda dan menghubungkannya dengan kondisi gerakan mahasiswa saat ini. Ia menyoroti kecenderungan orientasi gerakan pemuda yang dinilai semakin berpusat pada kepentingan pribadi, berbeda dengan semangat generasi muda pada masa awal pergerakan yang berjuang untuk kepentingan bersama dan masyarakat.
Selanjutnya, Tanjung menekankan pentingnya persatuan di tengah perbedaan organisasi dan pola gerakan mahasiswa. Ia juga menyoroti menurunnya gairah sebagian mahasiswa untuk terlibat dalam organisasi. Menurutnya, perbedaan seharusnya tidak menjadi penghalang bagi pemuda untuk membangun solidaritas dan memperjuangkan tujuan bersama.
Robi turut membahas dinamika gerakan pemuda dari masa ke masa. Ia mengajak peserta melihat perubahan karakter gerakan pemuda sekaligus merefleksikan tantangan yang dihadapi generasi sekarang dalam melanjutkan semangat perjuangan generasi terdahulu.
Sementara itu, Mila menilai aktivitas pemuda di media sosial, termasuk membagikan ulang informasi melalui repost story, juga dapat menjadi bagian dari gerakan. Namun, ia mengingatkan bahwa kontribusi pemuda tidak seharusnya berhenti di ruang digital. Masih banyak bentuk gerakan lain yang dapat dilakukan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Eka kemudian mempertanyakan bagaimana pemuda dari berbagai organisasi dapat membangun persatuan seperti yang ditunjukkan para pemuda dalam peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Ia menyoroti adanya gesekan antar kelompok atau organisasi yang kerap menjadi tantangan dalam membangun kerja sama.
Dalam kesempatan tersebut, Yusril Hanjani menyoroti pentingnya ruang diskusi lintas organisasi seperti yang diinisiasi Rumah Buku SAF ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini perlu terus dilaksanakan sebagai upaya merawat ruang dialog, ruang pemikiran, mempertemukan berbagai perspektif, dan menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda dalam konteks kehidupan mahasiswa hari ini.
Subhan turut mengangkat pertanyaan mengenai pihak yang perlu bertanggung jawab atas berbagai dinamika dan persoalan dalam gerakan pemuda. Pertanyaan tersebut membuka ruang refleksi bersama mengenai tanggung jawab individu, organisasi, dan lingkungan sosial dalam membangun gerakan yang lebih baik.
Menutup rangkaian pandangan, Aji Sahyudi menekankan pentingnya setiap anggota organisasi memahami arah dan tujuan organisasinya, sekaligus mengenali tujuan hidupnya sendiri. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi bekal agar pemuda tidak mudah goyah dalam menghadapi dinamika organisasi dan tetap teguh memegang prinsip yang diyakininya.
Melalui diskusi ini, Kevin mewakili Rumah Buku SAF, berharap perbedaan pandangan dan latar belakang organisasi tidak menjadi sekat yang memisahkan pemuda. Sebaliknya, perbedaan diharapkan menjadi modal untuk saling belajar, memperkuat solidaritas, dan melahirkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karna itu, semangat Sumpah Pemuda, dengan demikian, tidak cukup diperingati sebagai peristiwa sejarah, tetapi perlu diwujudkan melalui dialog, kolaborasi, dan kontribusi nyata generasi muda bagi bangsa.