PILPRES 2019: Hentikan Pergunjingan dan Fokus Pada “Nasib Kami”

Spread the love

Kontekstasi demokrasi pemilihan presiden merupakan pesta demokrasi yang harus dimeriahkan oleh seluruh elemen masyarakat. Kemeriahan itu tentunya tidak dengan kegiatan saling “menghujat”, saling menjatuhkan dan juga saling mencari kesalahan dan kelemahan. Bukankah negeri ini memiliki nilai-nilai filosofi bangasa, tata aturan yang mengarahkan agar menjadi manusia yang beradab, beretika dan pada akhirnya melahirkan masyarakat yang sopan dan santun.

Pernyataan itu dsampaikan oleh salah seorang petani padi sawah ketika saya berkunjung pada salah satu sentra persawahan di pinggiran kota Bandar Lampung. Ternyata sang petani sawah tersebut sering juga menyaksikan di layar televisi, terkait fenomena perilaku para pendukung (=simpatisan, tim sukses dan relawan) calon presiden dan calon wakil presiden. Beliau mengkritik para pendukung calon presiden dan wakli presiden yang selalu memanas dalam setiap perdebatan, dan menurut beliau bahwa setiap perdebatan itu hampir tidak ada yang menyentuh substansi terkait pemilihan presiden dan apalagi menyangkut pada memikirkan nasib kami sebagai petani sawah.

Pandangan beliau itu sebenarnya hampir apa yang saya juga saksikan selama ini, dan mungkin juga terjadi pada beberapa individu dan kelompok yang sering menyaksikan siaran televisi. Penyampaian pendapat dan adu argumentasi lebih dikedepankan apabila dibandingkan pada aspek perbaikan nasib bangsa ini. Orientasi yang dimunculkan adalah hanya saling menjatuhkan dan saling mencari-cari kesalahan. Fokusnya hanya pada memunculkan “aib” masing-masing pendukung, sehingga yang dihasilkan adalah saling menjatuhkan dan seakan-akan tidak saling menghargai.

Petani padi sawah itu, melanjutkan kembali keluhannya terkait pada keberpihakan pemerintah selama ini dianggap hanya orientasi pada pengembangan dan perluasan kawasan industri mega proyek, namun tidak pada industri berdasarkan hasil bumi masyarakat. Lahan semakin sempit dan tergusur akibat pembangunan dan perluasan kawasan industri yang hanya berbasis dan dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Sebagai petani tentunya harus lebih diperhatikan pada aspek, bagaimana mendorong sektor pertanian menjadi sumber unggulan penghasilan di negeri ini.

Sawah yang dulunya sangat luas dikawasan ini, namun karena pengembangan dan perluasan kawasan perkotaan dan juga akibat urbanisasi yang tidak terbendung terjadi setiap saat. Akibatnya lahan semakin sempit dan petani saat ini seakan-akan tidak memiliki posisi tawar dalam mempertahankan produksi padi sawahnya. Produksi hasil sawah saya menurun “menurut petani tersebut” karena lahan semakin sempit dan juga tidak ada solusi yang nyata dilakukan oleh pemrintah dalam hal penanganan pembatasan perluasan industri dikawasan pertanian dan persawahan.

Petani itu, menaruh harapannya pada hasil pemilu 2019 akan melahirkan presiden yang terpilih secara aman dan damai baik prosesnya maupun pada hasilnya. Setelah terpilih, maka sudah harus lebih memperhatikan nasib kami sebagai petani, agar tidak tergusur oleh adanya perluasan kawasan industri dan permukiman. Bukankah kami juga butuh diberikan perlindungan sebagai warga negara yang memiliki tanggungjawab dalam memberikan kontribusi pembangunan negeri ini. Bukankah kami sebagai petani sangat dibituhkan kontribusinya dalam membangun negeri ini, dan seharusnya perlu diberhentikan pembangunan dan pembangunan industri di kawasan sentra persawahan dan perkebunan.

Obrolan saya dengan petani itu, sebelum saya mengakhiri, mungkin ada dua hal yang perlu kita petik dari pengalaman beliau, pertama pelaksanan pembangunan yang dilakukan selama ini seakan-akan tidak mengajak petani produktif yang berada dikawasan pengembangan, sehingga kehilangan masa depannya; kedua pemerintah selama ini tidak memiliki perencanaan yang matang, sehingga kebanyakan lahan produktif yang seharusnya dilindungi namun berubah menjadi kawasan industri yang pada akhirnya mengakibatkan petani kehilangan pekerjaan tetapnya.

Pilpres 2019 merupakan harapan momentum bagi kalangan petani untuk memperhatikan nasib petani yang memilki semangat untuk membangun negeri ini dengan sumbangsi hasil pertanian. Menggalakkan semangat petani, berarti sama saja negeri ini kembali lagi pada masa penjajahan, dimana petani diminta untuk menanam dan hasil tanamannya tersebut dibeli oleh pemrintah dan atau pemerintah yang berkuasa saat itu menyiapkan lahan dan mempekerjakan rakyat pada perkebunan yang disiapkan oleh pemerintah.

Menutup tulisan ini, saya berpesan untuk kita semua, terutama calon Presiden mari kita semua memikirkan nasib petani dengan mengembalikan lahan petani sebagai miliknya, melalui metode pembatasan perizinan perluasan pembangunan kawasan industri pada wilayah terindikasi produktif untuk hasil pertanian. Sebagaiman pesan petani bahwa hentikan pergunjingan dan fokus pada nasib kami. semoga suara petani teman diskusi saya dapat terwujud pada hasil Pilpres 2019. Amin

Suwaib Amiruddin

Sosiolog Untirta fokus kajian masyarakat Desa dan Nelayan