Pemilu 2019: Menyuarakan Desa dan Petani Harus Berdaulat

Spread the love

Ada satu harapan dari anak desa dan seorang anak petani, untuk kemajuan Indonesia. Rasa optimis dari anak petani tersebut, membuat saya serius bertanya kembali. Apa yang saudara maksudkan?, lalu anak itu menjawab bahwa satu hal yang harus dilakukan di negeri ini adalah memberikan kepastian hidup pada petani. Harusnya pemerintah mendorong petani itu lebih giat bekerja dan pemerintah harus turun ke lapangan memberikan semangat bahwa bertani merupakan pekerjaan yang mulia dan menghasilkan devisa yang sangat besar.

Menurut anak petani itu, sebenarnya selama ini pemerintah belum berpihak sepenuhnya pada petani. Hal itu dibuktikan, bahwa pemerintah tidak pernah memberikan pengarahan secara langsung apa yang menjadi unggulan Indonesia yang dapat dikembangkan pada kalangan petani. Seolah-olah pemerintah sudah mengabaikan petani, nasib petani dan kehidupan petani di desa.

Sebenarnya kalau pemerintah memperhatikan nasib petani, maka pemerintah sudah melakukan pemetaan secara geografis potensi apa sajakah yang harus ditanam dan bisa menjadi bahan baku industri pertanian dan dapat dihasilkan sebagai barang jadi yang siap di kirim ke berbagai negara.

Pemerintah selama ini hanya sibuk pada kebijakan politik sesaat saja, misalnya memberikan bantuan secara tunai dan itu bukanlah solusi yang terbaik bagi petani. Tentu yang dibutuhkan adalah menggerakkan kementerian pertanian, dinas pertanian di provinsi dan kabupaten untuk memiliki satu visi dan misi mengembangan hasil pertranian berbasis potensi geografis. Pemerintah selama ini hanay sekedar disibukkan dengan pencitraan sebuah keberhasilan tanpa memperhatikan dan mempublikasi apa yang dihasilkan dalam bidang pertanian yang dapat dibanggakan di negeri ini untuk dapat diekspor keluar negeri.

Pandangan anak petani itu, sebenarnya sangatlah benar, karena beliau yang merasakan secara langsung sebagai anak petani dan anak desa yang kesehariannya hidup dikawasan desa. Hasil pertanian harus dikelola oleh pemerintah melalui dukungan industri berbasis hasil panen secara geografis.

Mungkin saya bisa mencocokkan pada situasi era tahun 80-an, masa-masa saya berada di kampung tanah kelahiran saya di salah satu wilayah di Sulawesi selatan. Ibu saya adalah seorang petani dan saat itu beliau sangat bersemangat dalam menata lahan pertaniannya. Saya dibesarkan diwilayah sangat tandus wilayahnya, petani menanam berdasarkan musim karena mengandalkan curah hujan. Ada satu hal yang menarik waktu itu pemerintah mencanangkan penanaman kapas bagi petani dan petani sangat antusias dan termasuk ibu saya ikut menanam, karena pemerintah langsung memelihara hingga panen dan juga sekaligus membeli hasilnya dari petani.

Semangat menanam itu terjadi, karena ada kepastian dari pemerintah. Demikian juga jagung, padi, dan kedelai petani bersemangat menanam karena pemerintah dapat membeli hasilnya, dan pemerintah membangun pergudangan sebagai wadah untuk menampung hasil bumi ditingkat kabupaten dan bahkan ada juga tingkat regional.

Sebenarnya pemerintah saat ini secara regulasi, telah memberikan kepastian bagi petani melalui harga dan penampungan hasil panen dari petani. Namun harapan dari anak petani tadi merasa belum dilakukan pengembangan kawasan secara geografis bagi petani terkait potensi yang harus ditanam agar petani lebih terfokus dalam kegiatan pertaniannya. Kalau pemerintah tidak memaksimalkan regulainya, ada ketakutan anak petani, jangan sampai lahannya di habiskan karena adanya pembangunan industri dilakukan oleh pengembang dan pengusaha yang secara massif masuk di kawasan perdesaan.

Harapan dari anak petani tadi, semoga pada pemilu 2019 menghasilkan anggota legislatif dan eksekutif yang memiliki orientasi pada pengembangan kawasan pertanian berbasis produksi berdasarkan geografis, dan juga semoga hasil pemilu 2019 dapat memberikan kepastian bahwa menjadi petani adalah profesi menjanjikan masa depan di negeri ini. Itulah kesimpulan obrolan saya dengan anak petani dari desa tersebut. Semoga tercapai atas apa yang disuarakan oleh beliau.

Suwaib Amiruddin

Sosiolog Untirta fokus kajian masyarakat Desa dan Nelayan