Jakarta, Tengokberita.com– Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar jauh-jauh hari sudah dideklarasikan menjadi bakal calon wakil presiden Republik Indonesia. Deklarasi itu berlangsung di Alun-alun Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Minggu 5 November 2017 silam.
“Saatnya santri memimpin,” kata salah satu santri saat membacakan ikrar. Sejak itu, dukungan dari kelompok Santri terus mengalir dan beberapa bilboard bergambar Muhaimin Iskandar yang bertuliskan ‘Muhaimin Iskandar Cawapres 2019’ bermunculan di beberapa titik di wilayah Jabodetabek. Bahkan, Rabu (7/3/2018) hari ini dukungan dari kalangan Nadliyin Jakarta juga dideklarasikan.
Muhaimin Iskandar sendiri mengapresiasi dukungan para santri tersebut. “Kami akan perjuangkan aspirasi para santri,” kata Cak Imin, demikian dia kerap dipanggil beberapa waktu lalu.
Mantan Wakil Ketua DPR ini periode 2004-2009 ini juga optimistis Joko Widodo atau Jokowi, calon presiden yang diusung PDIP akan memilihnya sebagai calon wakil presiden sekaligus mengajak partainya untuk terus bersama dengan koalisi partai pendukung pemerintah dalam Pemilihan Umum 2019 mendatang.
Jika dibandingkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo, elektabilitas Muhaimin sebagai calon wakil presiden berdasarkan sejumlah lembaga survei masih berada di bawah tiga nama itu. Namun, posisi mantan Ketua Umum PB PMII unggul jika dibandingkan dengan tokoh muda Islam lainnya seperti Romahurmuziy, Sohibul Iman, TGB M. Zainul Majdi, dan Zulkifli Hasan.
Peneliti LSI Taufik Febri W dalam sebuah diskusi mengatakan tingkat pengenalan publik terhadap Muhaimin lebih tinggi di antara para kandidat muda yang beragama Islam. Bahkan, dengan seorang Zulkifli Hasan yang kini menjabat sebagai Ketua MPR Muhaimin di atasnya, Muhaimin 32,4 persen dan Zulkifli Hasan 22,3 persen.
Di kalangan kelompok Islam, terutama NU, nama Muhaimin Iskandar memang layak jual. Apalagi, berdasarkan sejumlah survei sentimen agama jadi variabel penting dalam pemilihan presiden.
Berdasarkan survei LSI, sentimen agama itu terus naik dari 40 persen pada Maret 2016 ke 71,4 persen pada Januari 2017. Isu agama yang terus meningkat ini akan berpengaruh pada tokoh yang mau maju dalam pemilihan presiden tahun 2019 nanti.
Kendati demikian menurut pengamat politik dari Untirta Banten, Suwaib Amiruddin bahwa Muhaimin Iskandar tidak akan mudah atau akan cukup berat jika maju sebagai cawapres saat ini. Muhaimin adalah tokoh nasional yang masih berbasis lokal. “Masih berat, meski dia juga punya keunggulan,” ujar Suwaib kepada Tengokberita.com, Rabu (7/3/2018).
Keunggulan Muhaimin, kata Suwaib, adalah dukungan yang jelas dari kelompok nahdliyin, dimana basis massanya sudah jelas. Keunggulan kedua adalah partainya, dimana PKB berada di posisi partai tengah. PKB bisa berkoalisi dengan PAN dan Demokrat untuk mengusung Muhaimin Iskandar sebagai cawapres.
Melihat komposisi itu maka peluang Muhaimin Iskandar masih terbuka. Sekarang ini tergantung dari PKB dan seluruh tim pendukungnya untuk mulai melakukan lobi-lobi kepada partai politik lain.
Seperti kata Grunig dan Hunt (1984), kegiatan melobi adalah membangun koalisi dengan organisasi-organisasi lain, berbagai kepentingan dan tujuan-tujuan untuk melakukan usaha bersama dalam memengaruhi wakil-wakil legislatif atau melakukan kontak dengan individu-individu yang berpengaruh, dan wakil-wakil dari agensi yang menyatu.
Artinya, saat ini yang diperlukan oleh seorang Muhaimin Iskandar dan timnya adalah melakukan lobi kepada PDIP bila ingin menjadi cawapres Joko Widodo, melobi Gerindra jika ingin menjadi cawapres Prabowo Subianto atau parpol lain jika ingin mengusung Muhaimin Iskandar menjadi cawapres pada 2019. (rot)
Sumber: http://tengokberita.com/