Pada satu kesempatan saya bertemu dengan sekelompok anak muda, sementara bercakap-cakap diatas kapal penyeberangan dari pelabuhan merak Kota Cilegon Banten menuju pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan Lampung. Tema obrolannya kurang lebih terkait banyaknya berita bohong, atau berita tidak bertanggungjawab yang telah beredar di media sosial. Obrolan itu tentunya sangat menarik untuk lebih di diskusikan lebih mendalam.
Akhirnya saya berlanjut mendiskusikan secara santai dan duduk berempat, lalu saya bertanya apakah media sosial itu sangat penting?, serentak bertiga menjawab sangat penting. Saya memberikan apresiasi dan anak muda itu bertanya kembali, kalau menurut anda bagaimana?
Saya menjawab bahwa media sosial apapun bentuknya itu sangat penting dalam alam kemajuan teknologi saat ini. Dan beliau-beliau sangat setuju. Namun persoalannya kemudian, apakah media sosial itu memberikan pendidikan yang secara informatif dapat berdampak pada pengembangan ilmu pengetahuan. Tentu jawabannya beraneka ragam, ada yang mengatakan iya memberikan dampak, dan ada juga yang memberikan jawaban tidak sangat signifikan memberikan dampak pengembangan ilmu pengetahuan.
Secara data kuantitatif, saya tidak punya sumber yang signifikan dapat dipertanggungjawabkan. Namun secara kualitatif ada yang berpandangan bahwa media sosial saat ini ada yang menggunakan sebagai ajang “provokatif” dalam mensukseskan kepentingan sesaat, sehingga pada akhirnya media hanya memberikan informasi saling membuka kelemahan lawan dan pada akhirnya berlanjut pada perang argumentasi yang hampir tidak berkesudahan.
Pemuatan kalimat dan konten-konten yang saling menghasut satu sama lain, seolah-olah dapat diselesaikan di media sosial dan saling menyerang tanpa melihat siapa yang menyerang dan siapa yang diserang. Semuanya tidak saling mengenal, namun betapa fanatiknya orang-orang yang hidup di alam media sosial untuk membela komunitas, kelompok dan organisasinya.
Keberadaan media sosial tidak ada organisasi atau komunitas yang abadi, namun mengapa pergolakan sangat terbuka dan bahkan buka-bukaan hingga menyangkut SARA dan saling “merendahkan peradaban” diantara sesama manusia. Mempertahankan komunitas yang semu, dan memanfaatkan media sosial sebagai gelombang untuk “menyapu” semua lawan-lawan yang berseberangan, dan pada akhirnya bermuara pada saling menjatuhkan martabat dan harga diri.
Diskusi saya dengan anak muda tersebut, berakhir pada apakah media sosial hari ini kita tidak bisa mengubah isi dan konten-kontennya?, misalnya mengarah pada kemajuan berbagi tentang keilmuan, saling mengarahkan pada kebaikan untuk menghasilkan anak bangsa yang beradab dan saling menghargai atas berbagai pilihan-pilhan politik di negeri ini. Itulah keluhan dan solusi semangat dari diskusi kami.
Kesimpulan saya, hal itu bisa terwujud kalau semua anutan di negeri ini untuk kembali memberikan pencerahan melalui postingan-postingan di media sosial diubah menjadi kalimat-kalimat menyadarkan akan kemajuan, kemajemukan, dan perbedaan pilihan politik sebagai bagian rahmat untuk semua umat manusia di muka bumi ini. Semoga kita semua memiliki solusi bersama untuk menjadikan media sosial sebagai media menyebarkan kemajuan dan ilmu pengetahuan. Semoga
Suwaib Amiruddin
Sosiolog Untirta