Serang– Suwaib Amiruddin Foundation (SAF) telah melaksanakan kegiatan Dialog Publik (11/3) bertempat di pelataran terbuka kampus Universitas Primagraha (UPG) Serang-Banten.
Kegiatan Dialog Publik ini mengusung tema “Pemuda untuk Desa” Dalam tema yang di usung, kegiatan ini memiliki tujuan untuk memberikan wawasan kepada para pemuda khususnya mahasiswa yang memiliki semangat tinggi agar dapat berkolaborasi bersama-sama menjadi motor penggerak untuk andil dalam proses pembangunan desa yang berkesinambungan. Selain itu, kegiatan Dialog Publik ini juga diharapkan para generasi muda dapat melihat dan menganalisis situasi dan berbagai permasalahan-permasalahan di desa untuk dijadikan sebagai bahan observasi bagi SAF dalam mengupayakan solusi terbaik yang bisa dilakukan kedepannya.
Pada kegiatan Dialog Publik kali ini menghadirkan beberapa narasumber yaitu Ega Jalaludin, SH,.MM. (Akademisi Universitas Primagraha) M. Asep Rahmatullah, M.Pd. (Aktivis Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang/Aktivis Pemuda) dan Andri Wiguna, S.IP (Ketua Kongres Nasional Anak Desa SAF).
Selain itu, kegiatan Dialog Publik ini juga di hadiri oleh peserta mahasiswa dari beberapa unsur seperti BEM UPG, Kumpulan Mahasiswa Lebak, Pramuka Untirta, BEM STISIP Trimasda dan beberapa mahasiswa dari kampus lain.
Andri Wiguna, dalam paparannya bahwa Pemuda desa khususnya kalangan mahasiswa harus berperan aktif dalam membangun desa. “ Mahasiswa harus menjadi pelopor bagi para pemuda di desa agar mau bekerjasama dalam mendukung, membina, mendampingi dan mengawasi kegiatan-kegiatan desa khususnya yang berdampingan langsung kepada masyarakat desa”. Tegas Ketua Panitia Pusat Kongres Nasional Anak Desa.
“Pesan saya buat para pemuda khususnya mahasiswa, jadilah mahasiswa yang aktif, jadilah mahasiswa dan pemuda yang peduli dengan perkembangan desanya, jika kita tidak bisa ikut andil besar dalam pembangunan, setidaknya kita bisa melakukan hal-hal kecil seperti melakukan pengawasan terhadap dana desa agar tidak di korupsi seperti yang sudah terjadi di beberapa desa, kemudian juga aktif memberikan masukan dan aspirasi masyarakat kepada pihak desa, karena biasanya suara mahasiswa yang notabennya kaum intelektual bisa lebih di dengar oleh orang-orang desa dibandingkan dengan masyarakat biasa yang seringkali di anggap tidak tau apa-apa”. Ujar Andri.
Kemudian beliau juga meneruskan bahwasannya mahasiswa harus aktif dalam membangun relasi dan memaksimalkan pemanfaatan teknologi sebagai bekal ketika terjun di masyarakat. “Seringkali mahasiswa ketika di kampungnya di istimewakan oleh masyarakat karena dalam benak mereka menganggap bahwa mahasiswa itu serba bisa karena dia memiliki pendidikan yang tinggi dan pastinya banyak pengetahuan dan kemampuan sehingga terkadang masyarakat minta tolong ke kita padahal belum tentu kita sebagai mahasiswa juga menguasai bidang tersebut, oleh karena itu penting sekali bagi para mahasiswa untuk membangun jaringan dan menguasai teknologi dengan maksimal agar kita tidak terlalu kesusahan ketika ada masyarakat meminta bantuan yang diluar bidang keilmuan kita”. Lanjut Andri.
Andri menyayangkan masih sedikitnya mahasiswa di desa karena kurangnya kesadaran dan juga faktor ekonomi yang menghambat mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Saya sangat prihatin betul melihat generasi muda di desa yang di canangkan sebagai bonus demografi namun karena banyaknya keterbatasan membuat mereka harus putus pendidikan dan banyak yang memilih untuk menjadi pekerja buruh dan tidak sedikit yang memutuskan untuk menikah. Oleh karena itu kami dari Suwaib Amiruddin Foundation sedang berupaya untuk menggagas program 100 beasiswa kuliah bagi anak desa dengan harapan agar masyarakat pemuda di desa banyak yang memiliki wawasan dan pengalaman lebih luas sebagai bekal untuk kembali membangun desanya”. Pungkas Andri. (Humas SAF)