Kata swasembada pangan sering kita dengar dikalangan masyarakat desa, dan juga masyarakat kota. Hingga menjadi bahan perbincangan yang menarik dikalangan elit politik, forum-forum diskusi terbatas hingga seminar nasional dan bahkan seminar internasional. Mungkin tema ini menarik karena sesuai dengan kondisi geografis negeri kita yang dianggap sangat subur dan dapat tumbuh berbagai jenis tanaman di negeri kita. Menumbuhkan sektor pertanian dan perswahan menjadi penting sebagai pendukung swasembada pangan.
Kabar terkini dari keluarga besar saya di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan, bahwa sesuai tradisi bulan september merupakan bulan masa menanam padi, namun hingga bulan Desember baru masuk musim tanam, karena curah hujan yang sangat minim. Secara perhitungan kalender musim tanam bagi orang dikampung Jeneponto, bahwa bulan desember merupakan bulan baik untuk mengolah lahan persawahan. Masa tanam berdasarkan kalender, suatu keyakinan, walaupun curah hujan tidak sesuai harapan masyarakat di Jeneponto.
Antisipasi awal, Petani sawah terpaksa mengambil jalan alternatif melalui air dari dalam sumur. Teknologi pun dibutuhkan untuk mengeluarkan air dari sumur melalui mesin pompa air. Secara ekonomis, kegiatan ini sebenarnya menambah ongkos produksi petani, karena melibatkan teknologi di dalamnya. Kalau cara ini tidak dilakukan, maka padi tidak akan terselamatkan, karena kekurangan air. Kondisi ini memang tidak semuanya terjadi di Sulawesi Selatan, bahwa petani harus mengeluarkan air dari sumur untuk mengairi persawan. Ada juga beberapa wilayah yang mendapatkan pasokan dari irigasi.
Ibu saya seorang petani pernah bercerita, bahwa pada era tahun 1980-an, air dari irigasi Kelara sempat mengalir dan dapat mengairi persawan hingga di kawasan pinggir pantai kecamatan Binamu dan kecamatan Batang Kabupaten Jeneponto. Namun pertanyaanya mengapa di era tahun 2000-an itu tidak terjadi lagi?. Secara logika sederhananya, berarti sumber air tidak tersedia lagi dan atau jangan-jangan irigasi Kelara yang menjadi andalan dan harapan masyarakat yang tidak terurus lagi?. Kondisi ini hanya bisa dijawab oleh pihak yang terkait
Mewujudkan swasembada pangan, secara operasional dibutuhkan tiga sarana yang sangat penting, yakni ketersediaan benih unggul, ketercukupan air (bukan hanya tadah hujan namun dibutuhkan irigasi yang memadai), ketersediaan pupuk murah sehingga dapat terjangkau oleh semua lapisan petani, dan atau kalau bisa disubsidi (digratiskan). Kalau ketiga hal itu tidak terrealisasi, maka kita tidak dapat mengejar keinginan pemerintah untuk swasembada pangan. Swasembada pangan sebenarnya bukan hanya berbicara tentang padi namun bisa juga pada segmentasi jagung dan kacang-kacangan.
Minimnya koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat, menyebabkan ketertinggalan infrastruktur mendukung masyarakat perdesaan. Ketidaktersambungnya hubungan komunikasi visi dan misi antara pemerintah daerah dan pusat melahirkan egoisme bagi sisitem pengelolaan desa saat ini. Apa dampaknya, karena petani persawahan yang dulunya bersemangat menggarap sawahnya karena ketersediaan sarana pendukungnya. Namun kini seolah-olah perswahan tidak menjanjikan lagi sebagai sumber penghidupan, sehingga sawah masyarakat dijual dan disulap menjadi kawasan pertokoan, pergudangan, mall dan perumahan.
Kondisi itulah menyebabkan masyarakat desa berbondong-bondong ke kota untuk mendapatkan penghasilan tambahan untuk penghidupan keluarganya. Secara kualitatif bahwa tingkat urbanisasi semakin tinggi. Urbanisasi sebenarnya tidak akan terjadi, kalau infrastruktur pendukung pertanian diperdesaan tersedia dengan baik. Kalau dukungan sektor pertanian memadai, maka masyarakat desa pun punya harapan untuk hidup dan mau mengelola desanya dengan baik.
Secara realitas bahwa perlu mengembalikan kondisi seperti semula, sebagaimana cerita ibu saya bahwa pada awal tahun 2000-an pengairan dapat sampai dikawasan perswahan beliau, sedangkan pada dekade tahun sekarang tidak dapat terairi melalui irigasi. Semoga apa yang menjadi harapan petani dan termasuk ibu saya bahwa bulan desember merupakan awal musim tanam dapat terwujud cita-citanya sebagaimana cita-cita pemerintah untuk swasembada pangan Indonesia. pemerintah era sekarang juga sudah melakukan pembangunan infrastruktur irigasi,
Mengejar ketertinggalan dalam pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri dan kita tidak inpor (mendatangkan kebutuhan pangan dari luar negeri) maka dibutuhkan ketersediaan sarana bagi petani dalam mendukung ketersediaan teknologi, seperti pompanisasi yang dibutuhkan secara mendesak bagi petani, dan juga termasuk ibu saya.
Suwaib Amiruddin
Sosiolog