Serang-SAF (28/9). Pemilihan Umum 2019 merupakan momentum demokrasi yang dilakukan secara langsung dan serentak dilaksanakan pemilihan anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, DPD, Presiden dan wakil presiden sehingga wajar kalau banyak kalangan yang merasa cemas akan terjadi berbagai gesekan atau konflik pada penyelenggaraan kegiatan pesta demokrasi tersebut.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif SAF Moch. Fahmi Abduh dalam acara deklarasi #Kampanyepositif yang di selenggarakan oleh Suwaib Amiruddin Foundation (SAF) bertempat di Kantin Kampus Untirta Banten (27/9). Untuk itu maka kami melakukan kajian lebih mendalam dan menganalisis berbagai potensi konflik yang akan terjadi pada penyelenggaraan pemilu 2019. Pada kegiatan kampanye sangat berpotensi terjadinya penyebaran berbagai berita melalui media terutama pada media sosial yang tidak terkendali penggunaannya dan pada akhirnya berimbas pada konflik di permukaan.
Berangkat dari itulah, saya mengajak Relawan SAF menginisiasi melakukan seruan dan ajakan bagi penyelenggara Pemilu, peserta Pemilu, dan pemilih untuk bersama-sama mensukseskan pesta demokrasi 5 tahunan dengan mengusung kampanye positif. Tegas Inisiator dan sekaligus penggagas #kampanyepositif Pemilu 2019. Dan gerakan ini akan di lakukan sampai level nasional. “harapnya”
Lanjut Fahmi bahwa berbagai kegiatan kampanye yang dilakukan oleh peserta pemilu hampir ada celah saling “mengejek dan atau saling mengucilkan” sehingga sangat mudah terjadi politisasi issu dan akibatnya terjadi gesekan di masyarakat. Untuk itu dibutuhkan bagi semua elemen masyarakat agar dapat berpikiran positif antara calon dan peserta pemilu terutama dalam hal menyebarkan informasi di media sosial terkait latar belakang calon disampaikan saling menguatkan agar tidak saling menyesatkan, dan masyarakat memperoleh informasi berimbang. “Ungkapnya”.
Ketua Bawaslu Banten Didih M Sudi mengakui merebaknya hoax di media sosial bisa menjadi ancaman serius dalam Pemilu 2019. Terutama, bagi kalangan anak muda yang seharusnya diberikan pendidikan politik yang baik untuk memilih salah satu calon. “Kita sampai saat ini memang susah mengidentifikasi penyebaran berita hoax itu apakah mereka terorganisir atau tidak, dari kelompok mana, itu kita masih susah. Soalnya, kita tidak bisa sebut kalau dia dari pihak A atau B,” katanya.
Hal senada Ketua KPU Provinsi Banten Wahyul Furqon mengungkapkan, komitmen semua pihak mulai dari partai politik, calon anggota legislatif, maupun timses dari pasangan calon presiden dan wakil presiden pada deklarasi kampanye damai yang telah digelar pada akhir pekan kemarin, harus ditagih oleh masyarakat terkait komitmennya. Kita harus mendorong deklarasi #Kampanyepositif sebagai gerakan sosial yang sangat baik untuk dilakukan pada tataran masyarakat dan di dukung oleh penyelenggara, peserta pemilu dan pemilih. “Tegasnya”
Berbagai upaya terus dilakukan KPU untuk bersama-sama menangkal hoax, salah satunya melakukan sosialisasi yang masif kepada masyarakat termasuk kepada generasi muda. “Hoax tantangan kita bersama mewujudkan Pemilu 2019 yang berintegritas, kami minta masyarakat untuk bijak di medsos,” ungkap Wahyul.
Menurut Suwaib Amiruddin (Sosiolog), penyebaran hoax di medsos saat ini kondisinya sulit untuk dibendung oleh pihak mana pun. Terlebih, pengguna medsos di Indonesia mayoritas didominasi oleh kalangan anak muda. Kondisi ini, kata Suwaib, tentu akan banyak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab agar menguntungkan salah satu calon tertentu, salah satunya dengan menyebarkan berita bohong di medsos.
Deklarasi #kampanye positif yang digelar oleh Suwaib Amirudin Foundation (SAF) dihadirkan Moch. Fahmi Abduh Direktur Eksekutif SAF, Ketua KPU Banten Wahyul Furqon, Ketua Bawaslu Banten Didih M Sudi, serta sosiolog Untirta Suwaib Amirudin, Kapolres Serang Kota dan acara dibuka langsung oleh Direktur Rumah Buku SAF Jaka Permana (*Anam- SAF)