Nilai Kemanusiaan, Seharusnya Alternatif Atasi Bencana

Spread the love

Diskusi dan perbincangan masih hangat diberbagai kesempatan, itu bahkan terjadi pada komunitas-komunitas dan bahkan kelompok-kelompok peduli terhadap bencana alam. Perbincangan hangat itupun terjadi di Rumah Buku Suwaib Amiruddin Foundation (RB-SAF) pada pekan lalu, atau sekitar awal Desember 2025. Mungkin sekitar seminggu setelah kejadian bencana alam yang terjadi pada tiga provinsi terdampak di ujung pulau Sumatera yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tepatnya pada Tanggal 25-30 November 2025.

Perbincangan yang menarik saat itu adalah mengapa bencana itu, kekuatannya begitu besar terjadi di wilayah yang terdampak?. Saya kira pertanyaan itulah yang menjadi awal hangatnya diskusi. Dalam sesi diskusi atau perbincangan itu, ada yang menyampaikan bahwa hal yang paling terpenting dilakukan saat ini adalah mengirimkan doa, agar saudara-saudara kita yang terdampak senantiasa diberikan ketabahan dan keringanan dalam menghadapi situasai disana. Ada pula berpandangan bahwa menjaga alam sebagai wujud nilai kemanusiaan yang saling menjaga agar tercipta keseimbangan antara habitat manusia dan lingkungannya.

Mengapa Bencana hidrometeorologi dan disertai dengan bencana banjir bandang, luapan sungai, dan tanah longsor menerjang wilayah tersebut begitu dahsyat? Dalam perbincangan tersebut tidak ada yang dapat menjawab apalagi menganalisis, karena tidak ada yang ahli dalam bencana. Dalam beberapa berita kita saksikan ada sekumpulan dan bahkan tumpukan kayu yang ikut arus derasnya banjir bandang tersebut. Dan potongan kayu tersebut disaksikan bukan hanya tercabut dari akarnya, namun kayu yang seolah-olah sudah ditebang/dipotong untuk dipergunakan oleh industri.

Lagi-lagi dalam forum diskusi tersebut tidak dapat menyimpulkan bahwa apakah karena kayu yang dipotong dan atau “penggudulan hutan” salah satu penyebab terjadinya banjir bandang?. Lagi-lagi ada yang menyampaikan pendapatnya bahwa kita yang ada di forum ini bukan ahli kehutanan apalagi ahli dalam bidang bencana. Kerna bukan ahkinya maka kita Cuma dapat mendiskusikan bahwa betapa besarnya dampak yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu atau kelompok yang berkepentingan merusak alam sehingga terjadi banjir bandang diwilayah saudara kita yang berdampak.

Kepentingan pribadi atau kelompok tertentu yang hanya memiliki kemampuan untuk merusak alam, tanpa memikirkan dampak jangka panjang terkait hubungan alam dengan manusia. Bukankah alam dan manusia satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan?. Alam adalah tempat manusia tumbuh dan berkembang, demikian pula alam harus tetap lestari agar tetap berada pada kondisi keseimbangannya. Menjaga keseimbangan alam itu dapat terpelihara dengan baik apabila dilestarikan dan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia sesuai dengan kapasitas dan kepentingannya.

Diskusi tersebut, hampir menghasilkan satu benang merah bahwa yang terpenting dalam menjaga alam dan keseimbangan lingkungan adalah tidak melakukan eksploitasi alam yang sebesar-besarnya jika kita tidak mau diperhadapkan oleh bencana alam. Bencana alam akan selalu terjadi apabila tidak menjaga habitat alam itu sendiri, dan bahkan ekosisitem tempat tinggal manusia akan selalu terganggu apabila tidak memiliki prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan.

Secara sosiologis bahwa prinsip kemanusiaan antara negara dan korban terdampak bencana, sebenarnya bukan hanya sekedar menjaga hubungan interaksi sosial secara timbal balik antara negara dengan masyarakat di sumatera. Kepedulian negara atas kejadian tersebut, juga merupakan salah satu bentuk keprihatinan negara terhadap kondisi yang dialami warganya. Kehadiran negara untuk berkontribusi menata kembali sendi-sendi kehidupan warganya, agar tetap dapat menjalankan kehidupannya yang normal merupakan misi kemanusiaan yang adil dan berkelanjutan.

Kehadiran negara untuk hadir menjaga keseimbangan alam dan manusia sudah menjadi kodratnya, bahwa manusia sebagai mahkluk individu serta makhluk sosial memiliki kepekaan dalam mendukung penataan kembali pasca bencana di sumatera. Untuk hadir ditengah bencana, seharusnya tidak mengedepankan sikap individualismenya dan kelompok tertentu dan juga kepentingan tertentu saja.

Kesimpulan sementara dari diskusi tersebut menekankan bahwa sebenarnya dan atau bukankah manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta di muka bumi ini untuk menjaga keseimbangan antara hubungan manusia, alam dan Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai bentuk eksploitasi alam, yang dilakukan tanpa memperhatikan keseimbangan kehidupan sosial kemasyarakatan merupakan bentuk minimnya perhatian nilai-nilai kemanusiaan dari berbagai pihak tentang alam.

Penulis: Suwaib Amiruddin, Sosiolog Untirta