Kehadiran Transportasi Menggeser Identitas Desa

Spread the love

Tadi pagi saya punya pengalaman naik kereta api dari Jakarta menuju Rangkasbitung, dan saya naik di Stasiun Tanah Abang langsung menuju Kota Rangkasbitung Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Setelah saya naik dan menikmati perjalanan betapa nyamannya naik kereta api saat ini. Mengapa saya anggap sangat nyaman, karena juga para penumpang menikmati dengan santai sambil ada yang duduk adapula yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Baik yang duduk maupun yang berdiri sama-sama menikmati nyamnnya naik kereta api dengan fasilitas pendingin AC.

Perjalanan dari Jakarta ke Rangkasbitung ditempuh kurang lebih dua jam, perjalanan menyusuri wilayah perkotaan hingga menemukan pelosok dan perkampungan. Selain itu, menyusuri kawasan persawahan dan perkebunan milik masyarakat. Naik transportasi kereta api kelebihannya kita dapat menikmati pemandangan sepanjang jalan, berupa hamparan ladang dan persawahan yang luas. Namun yang menjadi pertanyaan adalah ladang dan persawahan yang luas itu, ternyata sudah terpasang papan pengumuman dan bertuliskan kalimat kurang lebih bahwa tanah ini milik perusahaan dan atau milik perusahaan terbatas dan  bahkan ada kawasan yang sudah melakukan proses pembangunan.

Setelah melihat papan pengumuman itu, perasaan saya sudah merasa tidak nyaman dan sudah mulai berpikir, bahwa jangan-jangan ternyata kawasan yang dulunya hijau dan digarap oleh masyarakat setempat kini sudah menjadi milik perusahaan tertentu. Kondisi wilayah ladang itu, kini sudah tidak ada lagi isinya karena sudah terbeli dan terpasang papan pengumuman dan pada akhirnya tentu tinggal menunggu masuknya pembangunan kawasan secara bergiliran dan menggeser semua penduduk dan lahan setempat.

Pembangunan yang sangat pesat yang terjadi di negeri ini, telah menyentuh hingga ke tingkat desa, dan bahkan hingga ke wilayah perkampungan. Wajah perkampunganpun sudah berubah menjadi kawasan pembangunan permukiman dan perumahan. Para pengembang kawasan menganggap bahwa kebutuhan pemukiman dianggap sangat dibutuhkan dalam kondisi saat ini. Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa perluasan kawasan permukiman hingga terjadi ke desa-desa dan perkampungan. Apa karena penduduk diperkotaan sudah menumpuk dan tidak memiliki tempat tinggal?

Mungkin jawaban dari pertanyaan itu, tidak perlu dijawab secara logika dan metodologis,  namun data menyebutkan bahwa sekitar 67% penduduk Indonesia ada di perdesaan. Secara realitas bahwa penduduk perkotaan untuk wilayah kabupaten tentu tidak semrawut seperti di ibukota provinsi dan ibukota negara. Apa karena penduduk sudah melakukan urbanisasi yang tidak terbendung lagi, dan atau jangan-jangan pengembangan permukiman itu hanya sebagai investasi dan bukan untuk tempat tinggal keluarga?

Saya berpandangan bahwa pengembang kawasan secara politik yang dilakukan kalangan investor adalah dimulai dari perluasan akses jalan dan transportasi. Seperti halnya transportasi kereta api jalur Jakarat-Rangkasbitung yang secara langsung terakses sejak lama, namun kenyamanannya dirasakan sejak tahun 2015 akhir.

Imbas dari akses perluasan transportasi itu saya berkesimpulan pertama memberikan peluang perluasan permukiman yang diperuntukkan untuk kalangan tertentu “pendatang” dan bahkan kalangan terbatas. Kedua hilangya lahan yang dulunya penghasil padi dan sumber pangan lainnya sebagai sumber kehidupan masyarakat lokal. Kehadiran transportasi itu penting, namun perlu didingat pula melalui perluasan transportasi itu seharusnya menumbuhkan akses pasar dari hasil bumi masyarakat lokal dan bukan mengganti lahan pertanian menjadi kawasan industri. Faktanya bahwa sepanjang jalur Jakarta-Rangkasbitung akan mengikis kawasan pertanian dan menjadi kawasan industri. Kalau tidak diberikan pembatasan bagi kalangan pengembangan kawasan, maka pada akhirnya lahan pertanian akan semakin terkikis dan bersamaan hilangya identitas desa di negeri ini.

Suwaib Amiruddin

Sosiolog dan Ketua STISIP Setia Budhi Rangkasbitung