Serang-SAF (3/5) -Fenomena pertarungan pemberian dan sekaligus pemungutan suara pada 17 april 2019, kalangan politisi tidak berhenti sampai disana. Setelah sore hari pencoblosan dianggap beres, maka tahap berikutnya penghitungan suara dilanjutkan. Ternyata berawal dari situlah keseriusan kalangan politisi memasang kuda-kuda, saksi dan pemantau secara individu politisi maupun secara kelembagaan partai semakin gesit untuk dikoordinasikan ungkapnya di rumah buku Suwaib Amiruddin Foundation (3/5).
Lanjut Suwaib bahwa keramaian pada saat penghitungan kelihatan serius pada Tempat Pemungutan Suara (TPS), bagi yang merasa memiliki kemenangan pada perhitungan suara di TPS penuh dengan sumringah dan gembira dan bahkan larut dalam kemenangan secara lokal di TPS tertentu. “Tegasnya”
Kemenangan pada lokal itulah merasa optimis akan menang, padahal belum tentu di TPS lainnya memiliki kemenangan seperti di TPS mana dia berada. Inilah yang dikatakan kemenangan lokal merasa kemenangan menyeluruh, janganlah salah kaprah. “ujarnya”
Laporan pun masuk berbagai penjuru, dan semua informasi yang terhimpun memberikan kemenangan, dan pada akhirnya kemenangan bukan karena berdasarkan pada suara, namun kemenangan berdasarkan informasi. Inilah menyebabkan politisi yang hanya percaya pada informasi tanpa memperhatikan fakta dan kenyataan perolehan suara di lapangan.
Suwaib lebih tegas lagi, politisi itu harus lebih dewasa dan lebih bijak dalam menghadapi pertarungan. Politisi perlu melakukan pemantauan secara langsung dan pada akhirnya tidak saling mencurigai. “Saling menuding satu sama lain dalam menanggapi hasil akhir suara yang diperoleh, merupakan suatu pendekatan yang tidak perlu digunakan dalam alam demokrasi di negeri ini. “Tutupnya” . (Anam- SAF)