SERANG – Atmosfir kontestasi politik menjelang perhelatan Pemilu 2019 yang kini tinggal 37 hari lagi kian menguat, khususnya pada Pilpres. Banten dengan populasi mencapai 10 juta jiwa dengan angka pemilih mencapai 8 juta lebih menjadi sorotan dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) baik nomor urut 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin maupun nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Pengamat politik Universitas Sultan Ageng Tirtaya (Untirta) Serang, Suwaib Amirudin menilai magnet dua pasang capres dan cawapres di Banten berada dalam sosok cawapres, untuk nomor satu KH Ma’ruf Amin sedangkan nomor dua ada pada Sandiaga Uno.
“Magnet kemenangan Pak Jokowi ada pada wakilnya, kalau Pak Ma’ruf mampu meyakinkan nahdiyin di Banten maka peluang besar beliau, karena Banten boleh dikatakan sejuta nahdiyin. Namun apabila beliau tidak mampu meyakinkan maka bisa jadi Jokowi akan sulit untuk menang, karena bagaimanapun nahdiyin saat ini sudah berafiliasi dengan berbagai parpol dan organisasi misalnya Mathlaul Anwar dan Al Khairiyah,” katanya saat dihubungi melalui telepon, Senin (11/3).
Menurut dia, terdapat tantangan berat bagi Ma’ruf Amin lantaran pada pondok pesantren yang menjadi basis nahdiyin terjadi polarisasi, khusunya pondok pesantren modern dan salafi. “Ini merupakan tantangan berat bagi Pak Ma’ruf. Apalagi dalam mengkonsolidasikan semuanya. Pertarungan di Banten tentu bukan hanya nahdiyin, akan tetapi ada juga kelompok-kelompok organisasi Islam lainnya yang perlu diyakinkan oleh beliau,” ujarnya.
Suwaib menjelaskan setidaknya ada dua faktor yang membuat terdongkarnya suara Jokowi-Ma’ruf Amin di Banten. Pertama, sosok Ma’ruf Amin yang merupakan orang MUI, kedua Banten merupakan tempat kelahiran Ma’ruf Amin.
“Saya melihat Pak Ma’ruf punya pengaruh besar. Cuma persoalannya apakah beliau mampu masuk pada organisasi Mathlaul Anwar, Al Khairiyah dan pondok pesantren baik modern maupun salafi. Kalau segmentasi mampu diyakinkan beliau, itu bisa lumayan besar jumlahnya di Banten,” ujarnya.
“Persoalannya kemudian adalah kehadirian Pak Ma’ruf ini bisa nggak menjadi satu visi dengan kalangan ponpes (pondok pesantren) di Banten dan itu yang jadi persoalan terutama dalam hal mendorong ekonomi ponpes. Karena bagaimanapun ekonomi ponpes perlu didorong terutama di kalangan salafi,” paparnya.
Sementara untuk kubu Prabowo-Sandiaga, Suwaib mengatakan mereka juga masuk dalam segmentasi kalangan ulama. Meski begitu, khusus untuk kalangan milenial magnet berada pada sosok Sandiaga Uno.
“Magnet Pak Sandiaga di kalangan milenial dan kalangan ponpes lumayan besar. Kalau kita lihat Pak Jokowi dengan melakukan pendekatan terhadap kaum milenial dinilai dapat menjadi jembatan dalam hal kemajuan teknologi dan aspek segi gaya hidup anak muda,” katanya.
Namun, jika melihat peluang Prabowo pada periode lalu tentunya ada perbedaan. Pada pilpres ini terdapat segmentasi dengan pendekatan yang dilakukan, salah satunya melalui parpol dan calon anggota legislatif (caleg).
“Gerindra sebagai pendukung Pak Prabowo di Banten punya usaha yang besar di parlemen. Walaupun tidak lebih besar dari PDIP. Yang menjadi pertanyaan apakah ada pengaruh parpol. Kalau saya melihat lebih cenderung magnet itu ada di caleg, cuma masalahnya caleg ini cari selamat atau ikut menyelamatkan capres-cawapres, dan ini jadi pertanyaan besar,” ujarnya.
Dirinya juga belum bisa menentukan siapa yang akan menjadi pemenang pada pesta demokrasi nasional lima tahunan tersebut. Namun, berkaca pada progres caleg di Banten, ada pada Partai Gerindra.
“Gerindra yang lebih kuat. Buktinya setiap gambar caleg pasti ada gambar capres, dan itu kita lihat dari sisi skoci. Walaupun yang paling menentukan itu nanti di tempat pemungutan suara (TPS). Tapi kalau lihat skoci, kubu Prabowo mempunyai progres yang besar, dan opini yang harus dicermati oleh kubu Jokowi,” katanya.
Ketua Tim Kemenangan Daerah (TKD) Banten Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin, Asep Rahmatullah menilai popularitas pasangan Jokowi-Ma’ruf dalam beberapa bulan menjelang hari pencoblosan mempunyai tren positif. Hal itu dibuktikan adanya relawan-relawan yang sudah paham jika pad pilpres 2019 bukan hanya sebatas persaingan antara Jokowi dan Prabowo. “Kita melihat masyarakat sudah mulai sadar,” katanya.
Terkait penilaian bahwa caleg belum mengkampanyekan capres-cawapres, Asep mengaku para caleg partai pengusung masih sibuk melakukan konsolidasi di wilayahnya. “Akan tetapi, jelang 17 April, ketika mereka (caleg) sudah blocking arenanya, kita sudah mulai giat menambah kekuatan dengan mengakampanyekan pilpres,” katanya.
Asep menargetkan kemenangan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Banten mencapai 65 persen. “Itu sangat realistis. Artinya walaupun target kita tinggi tapi survei sudah mendekati itu saja sudah bagus,” ujarnya.
Ketua Badan Pemenangan Daerah (BPD), Capres-Cawapres Parbowo-Sandiaga, Desmond J. Mahesa mengatakan pada pertarungan pilpres 2019, pihaknya akan bekerja keras. “Berkaca pada pilpres 2014, kita menang di Banten, tapi itu karena pasangannya Jokowi itu kan Jusuf Kalla (JK). Tapi tahun ini kan beda cawapresnya orang Banten, yah harus kerja keras, tentunya kita akan tetap mempertahankan kemenangan di Banten,” katanya.
Mengenai strategi, Desmon mengaku pihaknya tidak mempunyai strategi apapaun. Ia menilai sosok Prabowo di Banten juga didukung oleh ulama. “Kalau saya lihat itu masyarakat di level bawah lebih menyukai Pak Prabowo, kalau di level atas sudah terkendali,” ujarnya.
Ia juga mengaku tidak mempunyai target, ia menyerahkan kepada waktu. “Biar waktu yang berbicara. Kalau saya bicara sekian persen sama saja saya mendahului Allah. Dan saya nggak suka persen-persen itu,” katanya. (tb/tnt)/(Anam-SAF)
Sumber berita: HU Tangerang Ekspres